Minggu, 18 Desember 2016

Belajar dari gadis Suriah dan catatan Cak Nun

Aku ada satu teman asal Suriah, Layal namanya. Dia adik kelas aku di kampus waktu aku masih sekolah di Jerman. Terus terang aku ga pernah ngobrol bareng sama dia sebelumnya, kecuali saat main game bersama anak-anak lain.

Tapi saat perjalanan pulang Spiekeroog - Hannover, kami duduk berdampingan dan memaksa kami untuk mengobrol lama. 

Pertama yang membuka obrolan kami adalah (dan selalu) tentang apa yang mendorong aku pake jilbab. Kondisinya ia tidak memakai. Aku tidak mau menodongkan pertanyaan apakah dia itu Sunni atau Syiah. Namun setelah dia banyak menjelaskan tentang keluarganya, aku sedikit-banyaknya dapat menyimpulkan ia bukan Syiah.. Karena ia mengakui nabi Muhammad, dan banyak saudaranya juga mengimani As Sunnah. Meskipun, (ini patut digaris-bawahi) ia dengan yakin mengatakan, "Saya berbahasa Arab, saya tidak menemukan ayat yang menyatakan bahwa hijab adalah kewajiban. Itu hanya anjuran.."

Namun kemudian aku diskusikan dengan papa, dan ibu dari sahabatku, Winda. Mereka berdua (papa aku dan mamanya Winda) adalah dua orang yang sangat arif. Pendapat mereka kurang lebih sama, yaitu "Alqur'an itu menggunakan bahasa Arab dengan tingkat kesulitan yang paling tinggi dan paling indah. Seperti puisi. Bagaimana orang menafsirkannya bisa berbeda satu sama lain. Bahkan ahli agama pun belum tentu memahami betul isi Alqur'an 100%. Itulah yang disebut iman. Dan kita tidak bisa memaksakan iman seseorang."

Kembali lagi ke percakapan aku dengan teman Suriah ku. Ia bercerita juga tentang indahnya kota Palmeria sebelum kota itu dihancurkan oleh tentara ISIS. Ia bercerita dengan wajah berseri-seri menjelaskan "Ya, kami memiliki banyak sekali kepercayaan di Suiriah, dan kami hidup damai. Kami semua pada dasarnya sama, namun beberapa orang percaya bahwa Alkohol tidak haram, dan ada yang percaya sebaliknya. Banyak sekali, kalau mau kusebutkan, mungkin bisa lebih dari 100 kepercayaan. Bahkan dengan umat Christian, tentu, kami juga punya umat Christian, tidak hanya Muslim, kami juga saling membantu. Kami ikut menyemarakkan dan sebaliknya. Namun semua itu berubah..."

Dan seperti yang kalian bisa tebak, 'semua itu berubah ketika perang terjadi'... Yang sejak 5 tahun silam juga terjadi di Aleppo. Karena ada sekelompok orang yang merasa paling benar dan yang lain salah. Mereka mengaku yang sempurna, dan yang lain tidak pantas hidup, atau tidak pantas hidup dengan damai sebelum mereka merubah kepercayaannya.. 

Pada saat itu, terus terang aku tidak tau tentang berita di Indonesia. Namun sekarang, rasanya..........
Apakah kita ini sedang diarahkan supaya mengalami apa yang Suriah alami? naudzubillah min dzalik... Sekelompok orang mengatasnamakan suatu agama, namun tidak mencerminkan apa yang mereka (claim) telah pelajari, untuk justru mengotori agama mereka sendiri, membuat orang yang memiliki kepercayaan lain alih-alih jatuh hati, justru semakin menjauh.. Begitukah mau kita?

Aku teringat tulisan Cak Nun, salah satu pendakwah yang selalu menjaga pikiran saya tetap waras, pendakwah yang mengaku dirinya muslim saja tidak berani, karena itu hak prerogatif Allah SWT. Beliau mengingatkan kepada umat Islam di Indonesia bahwa yang menghadirkan perbadaan ini adalah Allah SWT. Dan perbedaan itu seharusnya menjadikan kehidupan indah, bukan kehidupan malapetaka. Mau bagaimanapun, ia pasti merasa agamanya benar, dan aku merasa agamaku benar, dan kamu berpikir agamamu benar. Dan itu tidak bisa kita paksakan. Dan dengan tidak mengintervensi mereka bukan berarti pluralisme.. 

Ya itulah, dari obrolan saya dengan Layal saya belajar. Dari banyak hal yang saya alami, dengar, rasakan, selama perkenalan saya dengan banyak pikiran dari dunia yang luas ini, saya belajar. Bahwa "Sebelum belajar menjadi muslim, belajarlah dulu jadi manusia." - Aditya.

Lebih kurangnya, aku minta maaf kalau ada perkataan yang membuat pembaca tersinggung. Bisa jadi aku salah. Ini hanya berbagi pengalaman, hasil obrolan dengan sesama manusia, dan tentunya ini bukan dakwah :)

Catatan cak-nun: https://caknun.com/2013/ketika-kita-berselisih-faham/

Rabu, 30 Maret 2016

Kereta Kosong

Seperti mengejar cerita baru, aku kembali mengejar kereta.
Oh ya, paskah hari itu. 
Jalanan sepi, begitu pula seisi kereta.
Kereta yang bisa diisi 100 orang tiap gerbong itu, hari ini terisi hanya 8 orang.
Ku kira ini termasuk sepi
Tapi ku teliti ulang
Ternyata ramai sekali.

Di udara, aku lihat berbagai cerita saling bertumbuk satu sama lain,
saling sikut mendapat area cukup untuk menguasai.
Tak satupun suara, namun banyak sekali cerita.

Di pojok kursi dekat pintu, duduk seorang bapak-bapak,
usia 37 tahun katakan saja.
Memandang keluar jendela yang sebenarnya tidak ada yang dilihat.
Ini dibawah tanah.
Ah, dia memutar kembali percakapan dengan kawannya semalam di irish bar.
Temannya malam itu mabuk, dan memaksanya ikut mabuk.
Lalu lengkungan senyum tanpa sadar dia buat di sudut bibir kanannya.

Arah jam 12 ku, seorang ayah berusia 43 tahun.
Tidak jelas apa yang ia perhatikan. 
Matanya kosong, tak berkedip sepersekian menit.
Lalu ku baca ceritanya.
Penyesalan.
Pagi itu ia memarahi jagoan kecilnya yang berusia 8 tahun.
Dan wanita yang sepertinya 3 tahun lebih muda terlihat kecewa padanya.
"Ini paskah!", katanya.
Lalu ia berkedip, dan memindahkan kedua bola matanya ke arah lain.
Tangannya mengusap keningnya.

Di belakang dua gelombang cerita yang berpautan itu, 
berdiri remaja pria usia 19 tahun yang sibuk menukar tombol demi tombol di ponselnya.
Kadang ia tersenyum geli.
Lalu ekspresinya hilang seiring dengan jemarinya yang bergerak.
Lalu tertawa senang melihat ke layar.
Dan ku lihat perempuan berambut karat di kuncir kuda.
Duduk di meja makan bersama keluarganya, tapi tangannya tak kalah sibuk dengan si remaja 20 tahun ini.
Flirting.

Stasiun pertama dilewati. 
Kali ini seorang nenek-nenek usia 68.
Membawa sekantung roti, dan tongkat.
Selangkah demi selangkah ia pijak untuk mencapai tempat duduk terdekat.
Kepulan asap mulai muncul di atas kepalanya dan membingkai cerita.
Anak-anak dan cucu-cucunya akan mengunjunginya siang ini.
Runtutuan skenario yang ia buat untuk hari ini.
Memanggang cup cake, menyiapkan cokelat, menata meja,
lalu.....
membersihkan jas demi jas yang berdebu milik suaminya yang telah lebih dulu meninggalkannya 3 tahun silam.
Dan cerita berganti.
Paskah 2012, di Heidelberg.
Di rumah anak tertuanya.
Ia merangkul lengan sang suami, berjalan beriringan bercerita.
Lalu cerita itu hilang.
Kembali ia membayangkan kedatangan cucu-cucunya yang suaranya bergemuruh mengisi ruangan.

Cerita-cerita lain juga mencari perhatian untuk mengikatku.
Lima cerita lain memenuhi tak kalah liar.
Kereta ini penuh sesak.
Tapi tak ada satupun yang bersuara.

Stasiun kedua dilewati.

Seorang bocah perempuan usia 6 tahun bersama ibunya masuk.
Suaranya mengisi kereta tanpa suara ini.
"Jadi seharusnya kita bisa sampai di rumah 10 menit lagi kan ma? Bobbi perlu makan!"
Katanya pada sang ibu, yang berusaha menjelaskan bahwa sang ayah pasti sudah memberi Bobbi (anjing peliharaannya) makan.
sedetik suaranya mengisi ruangan, kepulan asap cerita yang mengisi gerbong kereta tadi hilang.
Mata yang tak berkedip, kini berkedip normal.
Mata yang memandang ke kegelapan, kini mencari sosok sumber suara nyaring itu.
Mata yang terjebak pada monitor, kini lebih leluasa.
Dan mata yang mengais kenangan indah 4 tahun silam, kini lebih bersinar menanti kehadiran malaikat-malaikat kecil.

Dan aku pun turun dari kereta.


Minggu, 20 Maret 2016

Mari Bertukar Budaya

Saya masih inget banget perasaan yang saya rasain hari itu. Amsterdam, jam 10 pagi.

Ngantuk, capek, takut, gelisah, tapi juga bahagia bukan kepalang. Pertama kali nginjek Eropa, sendirian. Bener-bener sendirian. Ngeliat ke jendela, 

"Kamu beneran disini, Ra?"

Saya pikir perasaan excited semacam itu akan sirna setelah beberapa bulan. Ternyata tidak. 

Satu perjalanan saya dari Hannover ke Berlin dengan bis awal maret lalu, saya berdua dengan teman Vietnam saya. Setelah 30 menit pertama kami mengobrol dari masalah cuaca, ujian, liburan, sampai thesis, kami seperti mengerti satu sama lain: kami ingin punya waktu sendiri sekarang.

Lalu saya mulai menikmati perjalanan, likewise, iPod terpasang, mata menerawang keluar jendela. Deretan windmill (kincir angin, wind energy), area yang tergolong flat dan hijau, mobil dengan kecepatan penuh, cuaca mendung tipikal Jerman Utara musim dingin - semi, dan sesekali rumah-rumah kecil tapi indah seperti di dongeng-dongeng. Dan perasaan itu muncul lagi:

"Kamu beneran di Jerman, Ra?"

Setelah 1 tahun 5 bulan di Jerman.. Saya masih suka ga percaya kalau saya di Jerman. Mungkin bagi yang membaca ini terkesan berlebihan, atau saya dianggap tidak nasionalis. Tidak apa-apa, itu hak pembaca. Tapi, ini mimpi saya dari jaman saya belum kenal IPA dan IPS. Jadi saya pikir, perasaan saya ini lumrah.

Lalu apa yang saya dapat disini?

Banyak hal. Dari esensi hidup, baru tau betapa indahnya bahasa Indonesia, sampai budaya yang lebih mendukung, bukan mengekang. Hal yang menurut saya hampir 360 derajat berbeda dengan di tanah air saya. Meskipun tidak semua pengalaman tersebut datang dari orang Jerman. 

1. Kartupos

Sebelum saya tinggal di Eropa, sebenarnya saya sudah mulai mengoleksi kartupos. Saya ikutan postcrossing project waktu masih bersekolah di ITS, Surabaya. Koleksi saya masih sedikit sih pada waktu ity, baru sekitar 40an kartu, Kenapa saya suka kartupos? karena saya jatuh cinta sama dunia. Sesimpel itu. Pada waktu itu saya belum bisa kemana-mana, jadi saya pikir, kalau kaki saya belum mampu, biarlah mata saya yang membaca dan melihat cerita-cerita dari orang di seluruh dunia. Alhasil, dulu saya punya teman 'penpal' sampe kirim2an kado dari perkenalan lewat kartupos :)

Nah, setelah saya tinggal di Jerman, kartupos yang saya dapet dari mana aja saya tulis, dan saya kirim (kalau sempat) ke diri saya sendiri. Ada yang komen katanya itu ga waras. Well, you have no idea how happy I could be, when a year after travelling I looked back into my postcard and re-read a story behind it. 

Orang-orang Indonesia terbiasa melihat teknologi yang serba canggih dari gadget, dan menganggap hal yang udah ga ngetren sebagai hal aneh, justru melupakan apa itu esensi komunikasi. Padahal disini, kartupos seperti sepanjang masa. Dan para bule ini mengingatkan dan membawa saya kembali ke hal klasik yang ga akan kemakan usia.

2. Album Foto

Sebastian namanya,seorang Austrian. Dia pacar dari teman saya, orang Indonesia. Saya kenal mereka di salah satu perjalanan saya ke Islandia. Saya memang mulai suka fotografi, dan teman saya bilang saya sedikit perfeksionis kalo mengambil foto. Gak pernah suka ngeliat foto miring. Tapi sebatas itu. Foto tersebut hanya berakhir di dalam album laptop.

Lalu Sebastian cerita, kalau dia lebih suka mencetak foto-foto perjalanan ke bentuk physical. That hits me! Bukankah itu yang selalu orang-orang jaman dulu lakukan? Dan inget ga betapa bahagianya kita kalo liat foto album kita jaman bayi, umur 10 tahun, ada dalam bentuk cetak album? 

Kenapa saya ga pernah punya album foto lagi? Bukankah itu esensinya sebuah foto? membekukan memori, mencetaknya kembali, untuk diliat di kemudian hari? What have I missed these years?????

3. 'Sitting time'

Gatau nama yang cocok apa untuk kegiatan ini. Setelah perjalanan terakhir saya ke Yunani pekan lalu, dua teman saya (pasangan Hungaria) minta ijin untuk mengcopy foto dari kamera saya. Dan kebetulan saya diundang ke rumahnya sekalian main. 

What happened next was above my expectation. 

Saya pikir, mereka hanya akan mengcopy foto aja, dan selesai. Ternyata engga. Mereka menyiapkan teh, biskuit, lalu kami bertiga duduk di depan laptop untuk memutar ulang foto-foto tersebut. Ada kalanya mereka men-zoom in foto-foto tersebut hanya untuk melihat detail ekspresi kami. I have never done that before. I mean, sitting on purpose for only watching our picts and commenting them? That's awesomely a good idea and fun! 

Ternyata dengan 'nonton' foto, kami bisa 'kembali' ke Yunani beserta atmosfir hangatnya. Meskipun setelahnya harus dihadapi kenyataan kami di Hannover dengan suhu 3 derajat di musim semi...

4. Affection

This!! This is the most important part. Okay, everyone knows bagaimana bule bisa ber-romantis ria ga peduli dimanapun tempatnya. Sebelumnya, biarlah saya tanya ke kalian:

Kalo ada pasangan suami istri muda Indonesia, di jalan, peluk-peluk, cium kening, apa yang kalian bilang dalam hati?
a) kurang kerjaan
b) norak,kayak besok ga bakal ketemu lagi aja
c) aww, so sweet

Disini, ga kehitung saya ngeliat pasangan yang ga malu menunjukkan kasih sayang ke pasangan. Terutama pasangan geblek hungaria ini. 

a> Bayangin, si cowo baru kelar dari toilet di bandara, cuma abis cuci muka aja, lalu si cewek langsung ngebelai si cowok, meluk, senyum kasih sayang.
b> Si cewe kelamaan liat-liat dan saya beserta yang lainnya udah nungguin dia, dan si cowo ngehampirin si cewe dengan lemah lembut, elus punggung, elus kepala untuk ngajak si cewe "udah ya liat2nya, kita mau lanjut jalan"
c> Kepisah di museum barang 30 menit aja, begitu ketemu langsung saling sapa "halooo..." sambil senyum, elus kasih sayang.

Saya sebagai orang Asia dan orang Indonesia pada tepatnya, gatel untuk komen. 

Saya bilang sambil logat becanda, "Di Indonesia, pemandangan kayak yang kamu lakukan itu langka. Yang ada, kami bakalan komen, 'yaampun kalian norak banget sih, mesra-mesraan mulu di depan umum, kayak besok ga bakal ketemu aja'..."

Lalu mereka menjawab sambil bercanda, "Loh, kalau memang ternyata besok ga bisa ketemu lagi gimana? Mungkin mereka yang komen begitu ga sadar betapa pentingnya pasangan mereka.. Kenapa harus malu-malu nunjukkin kasih sayang di depan umum kalo itu bisa meningkatkan kebahagiaan satu sama lain?"

Again, that hits me. FYI, they have been together for more than 8 years.

Saya ga bisa untuk ga senyum setiap kali papasan sama kakek nenek yang gandengan tangan di jalan, saling ngerangkul. Ikut bahagia liat tante saya dulu (orang jerman) yang memohon suaminya untuk ga deket-deket jurang untuk ambil foto padahal juga jurangnya masih relatif jauh. Saya pikir kenapa, dan si tante bilang, "Saya ga bisa ngeliat dia di tempat yang mengancam. Pokoknya ga bisa"

Lalu saya ngobrol ke pasangan saya di Indo, kenapa di Indonesia pemandangan begitu malah langka. Bukan suami istri yang mesra, tapi justru pasangan baru awal pacaran. Lalu dia jawab, "Ya karena di Indonesia orang-orangnya masih beranggapan wanita ga boleh dengan pria. Wanita itu harus mengabdi untuk pria. Jadi pria suka jaim untuk nunjukkin affection."

I am sorry, but...... ew.

5) Lakukan apa yang bisa menguntungkanmu

Di perkuliahan Indonesia, saya yakin sebagain besar dosen masih menganggap dirinya penting di hadapan murid. Misal, kamu dari awal ikut kuliah dengan topik A. Dosenmu di bidang A udah sangat yakin kamu akan mendalami topik A dan ngebantuin dosenmu pada akhirnya. Mendadak, kamu justru pilih topik B. 

Ada 2 kemungkinan yang mungkin:
a) Kamu takut sama si dosen,
b) Dosen menganggap kamu penghkianat.

Saya disini kuliah dengan major sanitary, Saya kerja selama setahun di institut untuk bidang sanitary. Saya bantuin professor saya untuk penelitiannya. Sejak 6 bulan terakhis sebelumnya pun, professor saya udah nanyain topik thesis saya. Pada akhirnya, saya justru sama sekali tidak ambil thesis di bidang sanitary.

Saya takut banget! Saya merasa ini sebuah betrayal :)), meskipun sebenarnya bukan. Maklum, saya masih berdarah jawani, yang suka gaenakkan akhirnya emang gaenak sendiri ngerepotin.

Lalu suatu hari beliau nanyain saya lagi tentang thesis saya. Saya jawab kalau saya ambil thesis di institut lain, karena ada kerjasama dengan Indonesia. Lalu saya minta maaf berkali-kali. 

Ternyata respon beliau jauh diluar dugaan.

"Rara, justru yang kamu lakukan itu benar. Buka pintu selebar-lebarnya yang bisa membantu kamu di masa depan. Kamu sama sekali ga berkhianat, justru itu yang paling tepat. Saya tau background kamu apa, dan thesis kamu ini pasti sebenarnya lebih sulit untuk kamu daripada kamu ambil sanitary, jadi kamu harus lebih kerja keras ya. Jangan khawatir, pasti kamu mampu."

6. Last but no least, Bahasa Indonesia

Saya adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia di kelas. Dan orang Indonesia di Hannover tidak seberapa berserakkan seperti di Berlin dan Hamburg. Jadi kawan saya hampir tidak pernah dengar saya bicara dengan bahasa Indonesia. 

Sejak Oktober lalu, saya dapat 4 junior Indonesia. Lalu ulangtahun saya pekan lalu saya sempatkan mengundang teman-teman sekelas yang tersisa di hannover dan beberapa junior. Ini kali pertama teman sekelas saya mendengar saya banyak bicara dengan Bahasa Indonesia.

Saya ga nyangka, ternyata seruangan senyum setelah dengar saya dan teman saya bicara. 

1: "is that your language?"

2: "that sounds really beautiful"

3: "yes, they are like birds singing."

Saya terkejut sekali! Selama ini saya selalu bertanya-tanya tentang pendapat orang terhadap bahasa Indonesia. Apakah sama seperti saya yang ga suka dengan bahasa mandarin dan vietnam? Apakah bahasa kami se-mengganggu bahasa itu?

Dan ternyata hampir semua orang menyukai bahasa Indonesia. Komentar mereka selalu sama, "Bahasa Indonesia is really interesting. Sounds pretty, like a bird singing.."

Setelah saya masak untuk mereka, dan mereka suka sekali dengan masakan Indonesia yang saya buat, teman saya juga beberapa kali komentar, "Rara, saya ga pernah dengar tentang Indonesian cuisine dari kamu. Boleh nanya-nanya resep?"

Apa yang ga pernah saya lakukan disini? Membicarakan tentang Indonesia di depan umum padahal tidak ditanya. Saya hanya bicara tentang Indonesia ketika memang saya harus presentasi tentang Indonesia, dan kalau ada yang tanya. Karena live abroad bukan untuk mendikte orang tentang budaya kita, kan? Tapi justru belajar budaya lain supaya kita kaya pengetahuan, kan?

Kalau saya memuji negara saya sendiri, Indonesia itu indah, Indonesia itu luar biasa, rasanya akan terdengar narsis dan ga valid. Sesuatu akan dinyatakan cantik, jika memang sudah diakui oleh oranglain, bukan dari diri sendiri ;)

----------------------------------------------------------------------------

Dan masih banyak hal lainnya yang saya pelajari dan membuat saya ga ingin menyudahi satu garis periode saya ini. Banyak hal yang dimata orang Indonesia klise, gak sopan, padahal sebetulnya itu semua klasik, mengembalikan esensi, bukan sekedar bergerak tapi tidak tau apa maknanya, dan banyak hal-hal yang bisa meningkatkan rasa respect kita, meningkatkan humanity kita, saling menghargai satu sama lain. 

Indahnyaaaaaaa :")

"Saya masih disini kan?"

And don't be shy to show your affection to your beloved ones!














Hannover, 19 Maret 2016

Kamis, 11 Februari 2016

tangled thread

My glass: checked.
Laptop: checked.
Heater: checked.

So, a silly thought I had today. Last night when I was about to dive my dream in the middle these craziest exam weeks, I drew myself (my mistake) to open socmed (which I know exactly it was wrong). But I had been on the most terrible day, so I got myself to be a lil bit refreshed.

But...

VOILA!

one by one picture came to appear on my screen.

Wedding.

Marriage.

Couple.

Pregnancy.

"Oh God..."

No, don't get me wrong. I am happy for them. Happy for my friends that have already found their way to the next stage of life, with the greater problem and tests of life, but yet beautiful family with anything husband-ish and kid-ish. Sure, I am 100% glad for them.

But me?

"Oh God.."

Frankly, some years ago I really wanted to be a bride. To be such a nice wife, taking care of the house, chatting lalala like a young mom-nowdays-to be.

But.

But I dont know how many but I will say for the next ten minutes. But now? It all is confusing me. I mean, sure sure, I want to. But...


I AM SCARED!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

IT IS SCARY, ISN'T IT?

Im at the point where I exactly know, marriage is not about a fancy party, dress like a one day princess, wear 'kebaya' which we design by ourselves, pre-wedding photo dadada, smile like 'we are finally happily ever after.

But...

It is more taking a way too greater responsibility to ourselves, to our family, to our future children. Am I good enough? Am I smart enough to be a mum? Look at myself still be like this, still want to sleep with my parents when I come home, still want to be cuddled with my dad. And thinking deeper that I need to separately live with my parents, I cried.

I am not ready.

Again..

HAVING A BABY?????

shoot............................

This again.

Babies are cute. Babies are pies. Babies are sweet. But... I am really really reaaaaly scared.

And the 'baby production' thingy itself haunts me!!!!

Shooooooooooot.................

I told to my best friend here who actually lives together with her boyfriend and of course have already made love.

Okay, I wanna skip this one..

Anyway, yes, She told me everything is fine. Nothing to be scared of. Nothing to be shy.

BUT SOMETHING DOES GROW INSIDE MY WOMB???


shoooooooooooooooooooooooooooooooooot.......

When I saw my friend's picture last night, I spontaneously threw my phone!

I am not ready. I want to, but I am on the way there, but if somebody asks me, I would answer that I am not ready. My frinds (EVEN THEY ARE NOT MARRIED YET) calmed me, spoke that marriage should be something that you really want to have in the future. No need to be stressful..

Well, I hope so..

Rabu, 20 Januari 2016

Selfish

We knew a famous quote,

"take one, or get nothing"

Naaa...

I got both. I got the darkness and the stars. They are mine and will always be.

Strangers on the street. Was that me?

August 30, 2015.

I oppressively woke up with the anger. It wasn't becuase sleeplessness. The whole dreams I dreamed last night did tremendously torture me. In my dream I was throwing stuffs towards the wall, screaming, going under. I cried loudly. It was indeed not drama.

What did just happen to me? I don't know. 

Spontaneously I come back to an old conversation. "A dream is not just a dream. It is our fear, deputes our unspoken words, paints our hopes, and tells us what we truly want."

I sigh.

Last time I dreamed the similar one was a year back. Figure I loved once faded away and I was screaming badly and yelling in my dream. The day after, I told him and he cried. He cried because I cried. I cried because of him.

"Not again. Not again. Please"

I told to myself. I don't wanna lose anyone again this time. 

Like an entire ages forcing myself to move from sadistic feeling, I started arranging my plan today. Drawing, painting, singing, anything. But the only thing I can feel is just an emptiness.

Got to pray, and it comforted me for a while. Those dreams haunt me back further like they have no excuse to stay away from me. 

"I need to go outside"

So I just grabbed my things, a book, take a tram. Put the earphones on and keep the song playing itself until someone came approaching me. A 40s old guy whom I don't know dropped me a chocolate, caramel candies, and juice. I was just staring at the candies and being stoned with no word could I speak out. He kept handing me candies until I realized everyone watched him doing that. I switched off my iPod and asked him why he gave me those and simply he answered me that he found my swollen eyes about to cry. He just wanted to cheer me up. Don't know what to say. I even didn't have any chance to thank him since he got down before me. I walked out at the next station with my hands full with candies like a daughter got to be lured by her dad. I was thinking to throw them but I cancel it. I think if that person would harm ne, he would follow me and not disappear like that. (anyway I ate the chocolate already and thank God nothing is happening).

Keep walking until the bus stop and waiting for the bus driving me to the next stop. stepped down close to the biggest lake in town and my eyes hoped for shaded trees bench. Come across the lake, exactly on the centre of the street behind the trees I found my place. Again I turned the iPod on and instrumental songs were randomly played. Middle aged man sat beside me with his left hand wrapped in a cast -bike accident I guess-, wore his daily broken white t-shirt and knee-length short. Alone.

Seems it is very often in Germany, old people sitting alone in a public area here in artificial lake, sometimes they make a quality time with the birds surround here. 

Alone is not necessarily bad especially in Europe. We find more people traveling from one city to another alone. That's why I love Europe. i can do anything by myself without any intervention.

First thing I do was just watching strangers passing me by again and again. Blonde girl with red color lipstick, cowboy hat, some of them only 'covered'  by bikini, old couple holding hands and made me suddenly remember my parents, boys with their skateboard, some people riding their bike, etcetra etcetra. 

Yiruma's songs reverberated on my ears. Scheiss I still remember the shitty dreams. Started reading my book, titled 'Girls on the train'. Page by page I am turning, marking the good words or sentences or even paragraphs. Too mushy I become today. Every single thing is kinda conspiring on me. I don't know why somehow I find myself written properly in this novel. 

In every 5 minutes I couldn't help myself to not look at this middle aged man. A grandpa I can say. I got his loneliness right in the eyes. Yes, even he didn't say a word. Sometimes he stroke his plastered hand. If only I could freeze his face with my camera, I would swim into his story through his eyes. 

An hour has passed. On my right hand side people come and go. But this lonely man (sorry for labeling him) sat still in silent here right beside me...

"Let it be, old man.."

Jumat, 17 Juli 2015

Apakah Islam itu benar?

Kenekatan saya tinggal di Jerman bukan tanpa alasan, bukan tanpa ketakutan, tidak bebas cemoohan, tidak juga lepas dari kecurigaan oranglain. Tapi toh itu udah kodratnya manusia.
Kali ini saya mau sedikit banyaknya cerita tentang pengalaman keagamaan saya selama hampir setahun tinggal di tanah Eropa. 

Jerman, seperti yang sudah banyak teman-teman saya tau, adalah negeri impian saya untuk bersekolah sejak SD. Mimpi saya dulu waktu SD 

"Sekolah ke Jerman terus jalan-jalan ke UK!"

Saya tumbuh dengan kebiasaan dari keluarga, "gak perlu jadi yang terbaik, yang penting baik.." dalam segala hal, termasuk nilai rapor. Ya, ayah saya tidak pernah menuntut kami untuk mendapat ranking, tidak pernah memaksa kami untuk juara. Semua, kata ayah saya, yang penting kita berusaha, dan ketika gagal, jangan menyerah. 

Bahkan dulu saya pernah mendapat nilai E, ketika orang-orang Indonesia pada umumnya akan mencemooh dan menyindir, ayah saya justru sebaliknya, "Papanya dosen fisika, eh anaknya E. Lain kali jelek-jeleknya D aja ya ra. hehehe". Cuman gitu. Dan alhamdulillah, setelah ngulang pun nilai saya gak D. Saya gak punya nilai D di ijazah :)

Waktu kerja pun demikian. Ketika teman-tean saya sudah mematok harga harus kerja di 'perusahaan' dengan nama yang besar, ayah saya justru mengajarkan saya untuk melihat dengan cara lain. "Yang penting bisa gak Rara berkembang", kira-kira begitu. Akhirnya meskipun tidak sebesar gaji mereka yang udah kerja dibawah naungan nama besar, saya bisa memiliki pengalaman yang jauh lebih berharga melalui salah satu organisasi luar negeri. Saya 'digiring' melihat secara langsung perjuangan orang-orang desa di pelosok negeri, yang bahasa Indonesianya saja masih jelek. Saya diajak melakukan sesuatu yang nyata untuk lingkungan, bukan sesuatu yang justru meninggalkan lingkungan menjadi lebih tidak layak tinggal. Pengalaman berharga yang gak mungkin saya dapatkan kalau saya waktu itu menerima tawaran kerja di salah satu perusahaan produk ternama. Lagi, lagi, berkat ajaran ayah saya.

Waktu saya mengalami fluktuasi emosi karena mengejar bersekolah di Jerman, tantangannya juga gak terhitung. Dari yang capek menghadapi "kapan berangkat?", "Udah dapet sekolah?", "Kenapa ga kerja aja sih?", sampai "Ngapain ke Jerman?"

"Ngapain ke Jerman?"

Karena saya INGIN. Ada aja sindiran dimana-mana. 

Ya, saya memilih Jerman, karena mendengar bahwa teknologi Jerman tak tertandingi. Saya banyak mendengar dari orangtua saya bahwa "Jerman bukan negara islam, tapi penduduknya sangat islami..", juga, "Jerman itu negeri dongeng".

Saya mau membuktikan itu semua. Saya mau mengenyangkan rasa penasaran saya. 

Lalu kini saya di Jerman.

Tidak semua yang saya dengar adalah benar.

Mereka memang bersikap manusiawi, tidak seperti kehidupan di Indonesia. Mereka benar-benar menatur hidup manusia agar seimbang. Bukan hidup untuk kerja, tapi kerja untuk menikmati hidup. Tidak ada mulut-mulut iseng dari pria yang melihat perempuan seksi separo telanjang di jalan. Mereka menghargai perempuan atas pilihannya, bukan justru menuntut dan menyalahkan perempuan. Ini yang diajarkan nabi Muhammad, tapi tidak diikuti umat nabi Muhammad di Indonesia :)

Terlepas dari itu, saya tidak pernah menunjukkan ke-Islam-an saya. Maksud saya, bukan saya tidak bangga atau takut, tapi kembali lagi, saya ingin mereka melihat saya dari sisi manusianya, bukan agamanya. Kalau dari sisi manusianya saja saya sudah salah, pasti agama saya akan terbawa jelek, kan? Saya tidak mau seperti itu.

Karena keputusan saya ini, satu persatu pelajaran saya alami.

Saya pernah mengambil kelas bahasa Jerman, dan satu teman saya pria, berasal dari Denmark. Ketika kami diharuskan berdikusi tentang migrasi, saya sempat kaget karena dia mendadak melempar pertanyaan, "Und Islam? Religion fuer mich ist nicht wichtig" Menurutnya agama itu gak penting, ya, ini bukan sekali dua kali saya mendengar itu, dan saya mencoba menghargai apapun keputusan oranglain. Tapi kemudian, pertanyaan menjadi lebih ekstrik. "Menurutmu gimana? Saya gak suka sama muslim. Kristen, Katolik, gak masalah. Tapi Islam? Mereka berbeda, mereka aktif. Kalo mereka terus menerus seperti itu, kebudayaan yang ada di Jerman bisa hilang..."

Saat itu barulah saya bilang, "Apa saya pernah mengganggu anda?"

Dia jawab, "Maksudnya? Kenapa tanya itu?"

"Saya muslim. Dan saya tidak pernah protes ketika teman-teman saya disini untuk tidak percaya agama. Apakah saya sebagai muslim mengancam?"

Itu kedua kalinya saya merasakan posisi minoritas bukanlah hal yang menyenangkan.

Pertama kali adalah ketika ada demo besar-besaran menentang kehadiran muslim di Jerman yang persentasinya berkembang pesat (MENURUT MEREKA). 

Sekali lagi, saya tidak pernah menunjukkan bahwa saya muslim. Saya tidak pernah menggurui siapapun, saya bahkan belum berjilbab, bagaimana bisa saya menjadi contoh Muslim yang baik?

Saya hanya menjelaskan apa yang orang tanyakan pada saya. Hanya teman sekelas saya yang tau bahwa saya muslim, itupun karena mereka yang bertanya. Pernah juga suatu kali saya pergi ke suatu kedai bersama duo latin (cewek-cowok). Mereka minum wine segelas. Lalu satu persatu pertanyaan keluar dari mulut mereka, dan semua tentang aku.

Tentang Islam.

Bagaimana Islam, kenapa Islam melarang ini, itu, mengapa ada yang memakai hijab dan ada yang tidak. Sekalipun tidak pernah saya bicara jika tidak ada yang menanyakan atau tidak ada sikap yang menjatuhkan Islam. Bagaimana seorang wanita muslim memutuskan untuk menikah, apakah semua berdasarkan keputusan orangtua, apakah wanita berhak menolak pria yang ingin menikahinya, daaaan sebagainya.

Saya sampai shock mengetahui pertama kali bagaiamana pandangan masyarakat dunia memandang muslim terutama kaum wanitanya. Segitu terkekangnya kah wanita muslim dimata mereka? hehe.

Tapi itu yang mengharukannya, dengan segala apa yang mereka pikir tentang keagamaan, mereka respect terhadap saya. Sangat menghormati saya. Kerap saya berpikir, jika masyarakat Jerman sebagian ada yang membenci adanya muslim karena merasa terancam, lalu apa bedanya dengan masyarakat Indonesia yang ketakutan dengan berdiriya rumah ibadah rumah ibadah baru yang non-masjid? 

Pertanyaannya, kenapa?

Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, bukan? Bahkan yahudi. Apa benar, jika semua agama ini ditunggangi kepentingan untuk menguasai dunia? Apa benar semua agama adalah ciptaan manusia? 

Iman saya diuji benar-benar disini. Kadang saya merasa curiga terhadap agama saya sendiri. Kadang saya terbawa dengan omongan-omongan teman saya yang tidak percaya agama. Tapi kemudian saya mendapat jawaban sendiri.

Jika memang Islam buatan manusia, kenapa bisa semua larangannya berlandaskan alasan logis? Kenapa bisa semua perintahnya memiliki tujuan yang baik? Jika memang buatan manusia, berapa IQ manusia yang menciptakan agama Islam? Sebegitu detail, rinci dan sempurna seperti tanpa cacat? Apa mungkin?

Saya juga mengenalkan ke salah seorang teman saya tentang film 99 Cahaya di Langit Eropa. Bagaimana film tersebut menceritakan perjuangan muslim Indonesia bersekolah di Austria. Dengan segala cemooh dari teman-temannya karena harus meninggalkan ujian demi sholat jumat, dan sebagainya. Saya takjub melihat kenyataan bahwa teman saya antusias pada film itu dan mau nonton. Saya menjajikannya film tersebut setelah ujian selesai.

Katanya, "I should watch it! So all my questions about your religion will be answered"

Juga teman saya yang lain pernah bilang, betapa beruntungnya saya jadi muslim, karena dia melihat bahwa Islam benar-benar menjaga kaum wanita. Menjaga pasangan dari pengkhianatan karena dilarang berubungan sex diluar nikah. Lalu ia bilang betapa beruntungnya jadi wanita muslim karena operasi plastik dilarang, jadi tidak ada perempuan-perempuan dengan fisik kurang sempurna yang depresi karena tidak bisa operasi plastik. Karena Islam benar-benar mengajarkan kemurnian diri bukan dari fisik.

Rasanya gatel mulut ini pengen bilang, "Then convert yourself to Islam". Tapi saya tidak akan bicara begitu. 

Jika memang seseorang yakin dengan Islam, ia akan mencari jalannya sendiri. Tapi tidak untuk pasangan hidup saya. Pasangan hidup saya HARUS (pada akhirnya) muslim.

Lalu memasuki bulan ramadan pertama kali di Jerman. Tidak ada yang menanyakan untuk apa puasa. hampir tidak ada. Namun tidak jarang yang bilang bahwa puasa tidak minum itu gak masuk akal. Saya hanya tersenyum. Disini benar-benar hikmah puasa terasa. Di Indonesia, semua orang puasa, bahkan oknum-oknum gak bermoral turut teriak untuk memaksa restoran tutup selama ramadan. Justru itu yang gak masuk akal buat saya. Inti puasa adalah agar kita mensyukuri apa yang kita miliki dan apa yang tidak dimiliki oleh orang yang kelaparan. Bukan sekedar tidak makan minum dan orang harus menghormati kondisi kita. Sedangkan disini? Saya merasakannya. Semua orang makan minum, beli eskrim, tidak ada beban didepan saya. Itu yang membuat saya berpikir,

"Begini ya rasanya jadi kalian, kehausan, cuman bisa ngeliat orang didepan kamu minum..."

Hikmahnya benar-benar saya dapatkan.

Dan meskipun saya sempat suatu hari kelaparan dikamar teman saya, lalu teman saya bilang "You can eat my food. I will not tell anyone. Nobody will know if you break your fast now"

Saya cuma ketawa... Saya tau dia bercanda.. Dan bisa jadi dia serius karena ga tega liat saya lapar.. Tapi alhamdulillah saya tetap puasa.

Lalu masuk hari terakhir, dan teman saya bertanya, "Kamu sampai kapan puasa?"

Saya dengan semangat bilang "Hari ini hari terakhir" :)

Dan senyum bahagia lebaaaaar sekali dari bibir teman saya. Dia menyelamati saya seolah saya benar-benar baru mendapat kemenangan. Somehow I feel so blessed that moment.

Kemudian ketika saya jalan pulang bertiga dengan sohib-sohib saya, mereka masih membahas hari terakhir ramadan saya. "Congratulation, Rara! You made it!" Dan saat itu saya bilang, sebenarnya puasa disini secara godaan makanan tidak terlalu mengkhawatirkan, karen ga ada yang enak :D. Tapi minum susah sekali. terutama kalau suhu diatas 34. Mereka akhirnya bilang,

"But for me, I couldn't even imagine myself fasting like you. Maybe I can be without food, but without water?"

Barulah saya menjawab, "That is how some people in a particular area of this world are struggling for starvation now. Could you imagine children with thirst outside there? This is the essential point of our holy ramadan." Mereka mendengarkan..

Dan sampai dirumah, ada pesan masuk dari satu dianatar teman saya barusan, bahwa dia mengagumi komitmen saya pada agama Islam. Terlepas saya jilbaban atau tidak. Mengagumi ajaran Islam, walau dia bukan muslim. Sesaat saya merasa menjadi gadis paling beruntung dan bahagia.

Ternyata pesan itu benar, tidak perlu menjadi yang terbaik, cukup jadi orang baik, maka lingkungan yang akan menghormati diri kita, bahkan agama kita.

Kembali melihat ke belakang, ingat pesan keluarga saya, yang penting jadi orang baik... Walau bahkan saya merasa buruk. Merasa banyak cacat. Saya akui saya jarang mengucap alhamdulillah, jaraaaaang sekali. Tapi saya lebih sering mengucap "Terima kasih ya Allah atas..........". Karena buat saya, itu adalah ucapan rasa syukur, yang bisa diucapkan melalui bahasa manapun. 

Apa yang saya harapkan pelan-pelan saya dapatkan. Langit Allah itu luas, bukan hanya di Indonesia, bukan hanya diatas Bromo Tengger, bukan hanya diatas ka'bah, bukan hanya diatas Raja Ampat. Langit Allah juga ada di Afrika sana, di tanah kering dimana manusia bisa mati dehidrasi. Saya ingin membentangkan sayap saya melihat segala bentuk ciptaan Allah. Saya paham sekarang, bahwa mencari iman tidak harus didalam masjid, tidak harus didepan ka'bah. Tapi dimanapun, dibawah langit Allah dan diatas tanah Allah. Ditempat terkotor maupun terbersih. Jika mata hati kita mampu, maka iman itu disana. terbukti bahwa keraguan saya pada Islam pun bisa dibantahkan bahkan di negeri yang bukan negeri Islam :)

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang engkau beri hanya untukku, yang tidak bisa dinikmati oleh sebagian banyak orang. Terima kasih engkau menciptakanku di ligkungan keluarga yang mendambakan kesedarhanaan. Terima kasih sudah menjadikan saya khalifah menjadi diri saya sendiri. terima kasih sudah menutupi aib saya dengan pujian orang. :")

Happy Eid Mubarak Al-Fitr!