Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2016

Kereta Kosong

Seperti mengejar cerita baru, aku kembali mengejar kereta.
Oh ya, paskah hari itu. 
Jalanan sepi, begitu pula seisi kereta.
Kereta yang bisa diisi 100 orang tiap gerbong itu, hari ini terisi hanya 8 orang.
Ku kira ini termasuk sepi
Tapi ku teliti ulang
Ternyata ramai sekali.

Di udara, aku lihat berbagai cerita saling bertumbuk satu sama lain,
saling sikut mendapat area cukup untuk menguasai.
Tak satupun suara, namun banyak sekali cerita.

Di pojok kursi dekat pintu, duduk seorang bapak-bapak,
usia 37 tahun katakan saja.
Memandang keluar jendela yang sebenarnya tidak ada yang dilihat.
Ini dibawah tanah.
Ah, dia memutar kembali percakapan dengan kawannya semalam di irish bar.
Temannya malam itu mabuk, dan memaksanya ikut mabuk.
Lalu lengkungan senyum tanpa sadar dia buat di sudut bibir kanannya.

Arah jam 12 ku, seorang ayah berusia 43 tahun.
Tidak jelas apa yang ia perhatikan. 
Matanya kosong, tak berkedip sepersekian menit.
Lalu ku baca ceritanya.
Penyesalan.
Pagi itu ia memarahi jagoan kecilnya yang berusia 8 tahun.
Dan wanita yang sepertinya 3 tahun lebih muda terlihat kecewa padanya.
"Ini paskah!", katanya.
Lalu ia berkedip, dan memindahkan kedua bola matanya ke arah lain.
Tangannya mengusap keningnya.

Di belakang dua gelombang cerita yang berpautan itu, 
berdiri remaja pria usia 19 tahun yang sibuk menukar tombol demi tombol di ponselnya.
Kadang ia tersenyum geli.
Lalu ekspresinya hilang seiring dengan jemarinya yang bergerak.
Lalu tertawa senang melihat ke layar.
Dan ku lihat perempuan berambut karat di kuncir kuda.
Duduk di meja makan bersama keluarganya, tapi tangannya tak kalah sibuk dengan si remaja 20 tahun ini.
Flirting.

Stasiun pertama dilewati. 
Kali ini seorang nenek-nenek usia 68.
Membawa sekantung roti, dan tongkat.
Selangkah demi selangkah ia pijak untuk mencapai tempat duduk terdekat.
Kepulan asap mulai muncul di atas kepalanya dan membingkai cerita.
Anak-anak dan cucu-cucunya akan mengunjunginya siang ini.
Runtutuan skenario yang ia buat untuk hari ini.
Memanggang cup cake, menyiapkan cokelat, menata meja,
lalu.....
membersihkan jas demi jas yang berdebu milik suaminya yang telah lebih dulu meninggalkannya 3 tahun silam.
Dan cerita berganti.
Paskah 2012, di Heidelberg.
Di rumah anak tertuanya.
Ia merangkul lengan sang suami, berjalan beriringan bercerita.
Lalu cerita itu hilang.
Kembali ia membayangkan kedatangan cucu-cucunya yang suaranya bergemuruh mengisi ruangan.

Cerita-cerita lain juga mencari perhatian untuk mengikatku.
Lima cerita lain memenuhi tak kalah liar.
Kereta ini penuh sesak.
Tapi tak ada satupun yang bersuara.

Stasiun kedua dilewati.

Seorang bocah perempuan usia 6 tahun bersama ibunya masuk.
Suaranya mengisi kereta tanpa suara ini.
"Jadi seharusnya kita bisa sampai di rumah 10 menit lagi kan ma? Bobbi perlu makan!"
Katanya pada sang ibu, yang berusaha menjelaskan bahwa sang ayah pasti sudah memberi Bobbi (anjing peliharaannya) makan.
sedetik suaranya mengisi ruangan, kepulan asap cerita yang mengisi gerbong kereta tadi hilang.
Mata yang tak berkedip, kini berkedip normal.
Mata yang memandang ke kegelapan, kini mencari sosok sumber suara nyaring itu.
Mata yang terjebak pada monitor, kini lebih leluasa.
Dan mata yang mengais kenangan indah 4 tahun silam, kini lebih bersinar menanti kehadiran malaikat-malaikat kecil.

Dan aku pun turun dari kereta.


Minggu, 16 Maret 2014

Dimension

Where do we live?
Is this right is this wrong?
Is this hurting is this comforting?
Where do we live?
Are we standing in the right line?
In the same line?
Where do we live?
I am breathing, aren't I?
Are you?
Is it Oxygen, Nitrogen?
Where do we live?
On earth? on my world on your world?
Can you prove it?
Can I?
Where do we live?
Where is tree? Where is water?
Where is butterfly where is lion?
Where do we live?
What is future what is past?
Is it good is it bad?
Which one should we keep?
Where do we live?
Wrong answer or brilliant?
Where do we live?
Book is it? Song is it?
Where do we live?
How is your voice how is mine?
Who are you who am I?
Shall we speak?
What to say?
Where do we live?
Is it dark is it shiny?
Is it red is it blue?
Why is everything blurring?
Where do we live?
No.
We don't live.
We are just two things who watching, thinking, wondering, pretending, observing, and hoping people.
We are only dimensions.

Stop questioning everything.

Senin, 10 Februari 2014

Day #11 : a Deceased Person You Wish You Could Talk To

Gue bingung. Tantangan yang dikasih ke gue ini kenapa ga berlevel sama sekali sih? Gue pikir dari hari kehari tantangannya bakalan makin susah, lebih ngebongkar rahasia. Tapi ini ga, fluktuatif banget. Yaudah, gue jalanin aja.

Hari ini tantangannya gue harus menceritakan sesorang yang udah meninggal, yang pengen banget gue ajak ngomong. Horor ya. Agak. Semoga aja abis nulis ginian ga ada yang aneh-aneh.

Sebenernya, gue tau siapa yang bakal gue tulis disini, tapi ada tapinya. Jujur aja gue kangen banget sama dia. Dia meninggalkan gue ketika gue SMA, tepatnya januari 2007 silam. Dan sejak itu, tiap januari 2007 gue selalu keinget gimana kabar itu datang, jam berapa, apa rencana gue hari itu, dan semua berubah ketika berita duka itu sampai ke telinga gue. Dan gue masih selalu nangis ingetnya. Tapiiiii, kalopun gue ketemu gue gatau mau ngomong apa. Paling juga maunya meluk.

Beliau adalah inyik gue. Inyik berarti kakek dalam bahasa minang. Kepergian inyik adalah kepergian seseorang yang sangat menyakitkan buat gue. Ngebekas banget sampe sekarang karena itu pertama kalinya gue ngerasain ditinggal pergi selama-lamanya orang yang gue sayang. Hari itu lagi libur sekolah, dan gue sama ortu berencana ke dufan. Gue sangat bersemangat di hari sebelumnya. Lalu sekitar jam 03.30 pagi, pintu kamar gue diketok dan gue dibangunin dari tidur gue. Gue kira "hah? Kan libur, kok tetep dibangunin?" Dan saat gue buka pintu, nyokap gue ngasihtau "Rara, Inyik udah meninggal". 

Gue bengong. Gue ngantuk. Gue sama sekali ga sedih menit itu. Gue diem ga ngerespon apa-apa. Sampe mama nanya "Rara mau ikutan ke Wonosobo apa engga? Mama sama papa mau berangkat". Gue ngegeleng. Terus nutup pintu kamar, lalu gue duduk dikasur, mikir.

Inyik meninggal.

Sebentar-sebentar..

Meninggal. Artinya gue ga akan ketemu lagi sama Inyik? Ga akan? 

Baru setelah beberapa menit gue tersadar penuh, terus gue keluar kamar menuju kamar orangtua gue dan bilang "Rara ikut."

Dan gue masuk kamar, terus nangis sejadi-jadinya. Gue bawa beberapa baju (sambil nangis) dan siap-siap.

Kebetulan adeknya papa kerja di penerbangan (pilot) jadi beliau yang ngurusin soal tiket dadakan dalam jumlah besar ini. Para orangtua (anak kandung Inyik) berangkat duluan karena ga ada tiket yang bisa dibeli dalam jumlah sebanyak itu untuk satu penerbangan yang sama, jadi para cucu berangkat belakangan. Gue pergi sama kakak gue yang ketiga. Saat itu kakak gue yang kedua lagi sekolah di Jerman, dan dia cuma bisa nangis-nangis lewat telpon.

Kami (para cucu) pergi dengan pesawat tujuan solo (kalo ga salah inget) dan lanjut ke Wonosobo pake travel. Sepanjang jalan gue ga banyak ngomong karena sepertinya gue cuma nangis, liat keluar jendela, dan muter instrumen guitar X-Japan yang Endless Rain. Musik itu penuh kenangan menyedihkan buat gue. Gatau kenapa, tiap gue sedih, gue pasti nyetel lagu itu. Baik yang pake lirik, atau yang versi instrumen aja. 

Berkali-kali papa nelpon nanya kami udah dimana, karena mereka sengaja belum memakamkan Inyik untuk ngasih kesempatan kami ngeliat Inyik untuk yang terakhir kali. (Fix, gue mulai nangis sekarang).

Sampe disana, gue rasanya kayak dicekek, udah ga bisa ngomong apa-apa. Gue ngeliat Inyik tidur diruang tamu rumah Inyik, kulitnya dingin, udah dibalut dengan kain kafan. Gue mencium kening Inyik dan berusaha sebisa mungkin jangan sampai airmata gue kena dikulit Inyik karena Inyik udah suci dimandikan. 

Gue ga percaya Inyik udah pergi. Kemudian gue kembali nangis sesenggukan, duduk didepan pintu ruang tamu, dimana oranglain sibuk semua. Ga ada yang merhatiin gue nangis disitu. Kebetulan mereka keluar masuk ga lewat pintu itu. Sampe salah satu oom gue liat, dan datengin gue nyuruh gue minum teh panas. Gue lemessssssssss sejadinya. Dan nangis ga berenti sampe Inyik udah terbaring dibawah tanah disamping isteri tercintanya.

Setelah Inyik meninggal, beberapa kali gue berharap untuk memimpikan Inyik. Terutama waktu gue lagi kangen-kangennya sama beliau dan alhamdulilah sampai hari ini, gue udah sekitar 5 kali memimpikan beliau. Seseorang pernah ngasihtau gue, kalau kita memimpikan seseorang yang udah meninggal, dan dalam mimpi kita dia ga ngomong apa-apa, itu artinya itu memang dia yang lagi mengunjungi mimpi kita. Kalau dia bicara sesuatu atau memberitau sesuatu, mimpi itu datang bukan dari Allah dan kita ga boleh dengerin kata-kata orang tersebut. Dan semua mimpi gue, beliau ga ngomong. Satu diantaranya dimimpi itu gue masih TK dan Inyik ngegendong gue, tanpa bicara. Dan satu lainnya, gue mimpi Inyik berdiri pake batik persis batik punya papa, sambil senyum kearah gue. Dua mimpi itu yang paling berkesan. Bahkan ketika dalam mimpi itu gue bilang "Inyik, Rara kangen", beliau cuma senyum...

Al-Fathihah sent.

Sekarang kalau ditanya apa yang pengen gue ucapkan seandainya gue ketemu sama Inyik, gue pun ga tau mau ngomong apa, gue pasti cuma bisa bilang "Kangen banget Nyik...." 

Inyik orang yang baik banget, dan gue percaya Inyik ada ditempat terbaik sekarang..

Ich vermisse dich so sehr, Inyik. Wart auf mich...

 Iseng googling nemu ini


Datuk Bagindo Kali, Ruzbar Rahmat

Selasa, 04 Februari 2014

Day #5 : Your Dreams

Tantangan hari ini adalaaaaaaah…………………..

“Your dreams”

Sebentar ya, gue duduk di perbukitan sambil mandangin bintang-bintang dulu….

Mimpi. Bicara soal mimpi, mimpi gue ini (ke)banyak(an) kayaknya.
Sejauh yang gue inget, mimpi pertama kali yang terbentuk dan gue ucapkan ke kedua orangtua gue adalah gue mau sekolah di Eropa. Negara manapun boleh, asal di Eropa. Tapi yang jelas negeri impian gue yang harus banget gue datengin itu Inggris. Gue suka sama yang klasik dan Inggris punya segalanya tentang klasik.

Waktu gue kecil gue sempet punya mimpi jadi pramugari. Bukan karena gue ngerasa cantik, bukan. Menurut gue asik aja bisa keliling negeri, apalagi bisa sampe internasional kan. Gue emang gatel pengennya pindah-pindah tempat terus anaknya. Tapi, belom juga gue gede, gue udah harus pake kacamata. Kandas deh.

Terus gue pengen jadi sastrawati. Gue pengen banget nonton theatre di Inggris yang ceritanya diangkat dari sastrawan legendaris dunia. Sampe sekarang. Gue pengen. Pengen banget.Semoga ini tercapai. Aamiin. Gue suka nulis dari SD. Waktu gue SD, mama pernah ngasih gue buku tulis yang cukup tebal untuk gue nulis apapun yang gue mau. Banyakan sih yang gue tulis tentang pemandangan yang gue liat, sama………………………………………………………puisi. Iya, jaman SD juga gue udah suka bikin puisi. Dan alhamdulillah gue pun pernah dapet Juara 2 dari hasil menulis se jabodetabek *bangga* *Setiker james muka minta digaruk sambil nyilangin tangan*. Tapi karena ngalamin yang namanya kena ‘doktrin’ dari seseorang bahwa jadi penulis (atau sejenisnya) otrientasinya cuma sebagai pemuas hobi, mimpi gue pun gua tanggalkan.

Kemudian, dari gue TK gue suka nari dan masuk ke sanggar tari (dan pragawati). Bisa dibilang bakat gue memang disini karena cukup banyak gue bisa memenangkan lomba tari. Penghargaan tertinggi yang pernah gue raih dari dunia tari ini adalah gue berhasil masuk 10 besar finalis tari bali yang diadakan tiap 2 tahun sekali sama ITB, Bandung. Sebenarnya, gue pernah menjuarai di kompetisi lain, dan pernah dapet posisi penari terbaik nasional, cuma buat gue kompetisi yang diadain ITB ini yang paling bergengsi. Penari yang bisa lomba disini emang yang udah jaminan bagus-bagus. Dan kenapa gue bangganya setengah mati padahal gue ga menang? Karena ya, pertama: latihannya ga main-main, yaitu gue tiap hari harus ke bulungan buat latian dari pulang sekolah sampe malem. Kedua: lawan-lawan yang harus gue hadapi menurut gue pada bikin mulut nganga dan ngeces saking bagusnya. Everyone who looks at them will not close their mouths. it is delightful to see. Ketiga: gue adalah finalis termuda yang masuk 10 besar, dimana lawan-lawan gue udah SMP dan SMA, dan gue umur 9 tahun. Kelas 4 SD. Yang tadinya gue ga punya asma sama-sekali, selesai turnamen itu gue bawa pulang ke Jakarta penyakit itu lantaran badan gue terforsir parah. Nyesel? Engga. Gue bangga. Nah, karena tau bakat gue di tari menari, gue kembangin sendiri kemampuan gue di tari-tari modern dan gue bercita-cita masuk IKJ dan bisa ikutan di pentas dunia buat nari, dan bawa nama Indonesia ke mancanegara. Tapi sekali lagi. Gue dengan bodohnya kena doktrin. Gue mau masuk IKJ, gue diketawain. Sakit juga loh perasaan gue waktu itu meskipun gue cukup dibilang masih kecil. Tapi okelah, hobi tetep bisa dijalanin.

Setelah gue beranjak dewasa, gue makin berubah orientasi, dimana yang tadinya hidup gue dikelilingi kesenian, jadi ke ilmu alam. Gue menjadikan bokap dan kakak gue sebagai tolak ukur gue sendiri. Akhirnya gue mencari ‘mimpi baru’ yang menurut orang-orang terdekat gue itu baik. Gue pengen jadi arsitek. Kemampuan gambar sih ga oke-oke amat, tapi suka. Terus karena khawatir gue bakal keteteran, gue jadikan cita-cita itu sebagai cadangan. Ya meskipun arsitek seharusnya ga jadi cadangan sih. Setelah gue baca-baca buku tentang perkuliahan, gue tertarik sama jurusan teknik lingkungan. Pas gue baca “GREENPEACE” jadi salah satu prospeknya, gue memutuskan untuk kuliah disitu dan cita-cita gue yang baru  adalah ikut greenpeace dan jadi kontraktor :|. Seiring berjalannya waktu, gue makin mantap sama cita-cita jadi kontraktor. Kerjaannya di proyek, ga didalem ruangan, kemana-mana. Iya, gue anaknya ga bisa diem. Makanya gue lebih enjoy kerja diluaran dan kulit gue makin kayak jeniffer lopez (boleh, kalo mau muntah, boleh) timbang gue harus duduk manis diruangan, jarang kemana-mana, disitu-situ aja, tiap hari harus make up. Lagi-lagi, greenpeace: gagal.

Sekarang gue ga minat untuk jadi kontraktor. Asal bisa kerja di tempat yang bukan head office, gue seneng. Salah satu target gue adalah perusahaan property, holcim, atau PPLI. Tiga-tiganya kandas… ………………………………………….. *nangis jejeritan dibawah bantal* *engga ding*.

Bisa dibilang mimpi-mimpi gue HAMPIR GA ADA YANG TERWUJUD. *nyilet-nyilet alis*. Tapi kemudian gue teringat sama cita-ccita gue waktu kecil. Gue mau kuliah di eropa!!!!!!!!! *bakar menyan* Akhinya gue memutuskan untuk kembali mengejar mimpi gue itu dan kebetulan papa sangat-sangat setuju. Gue gak mau ke eropa dengan judul utama trip. Gue mau trip itu adalah rutinitas sampingan gue ketika gue menimba ilmu disana. Itu mimpi gue. Mimpi gue yang tak lekang oleh waktu~~~ *dungtakjesss*

Setelah kuliah dari Eropa, tentunya gue harus punya mimpi berikutnya kan? Mimpi gue berikutnya sih conditional ya. Karena gue mau menikah di usia gue 26 taun (ASTAGA INI DUA TAUN LAGI DONG, BERASA TUA YAAA) . setelah menikah, gue mau bekerja di tempat yang kemungkinannya akan meminta gue untuk keluar negri lagi (dan bawa anak, aamiin). Sejauh ini sih yang kayak gitu GIZ…… Dan Alhamdulillah banget gue dapet kesempatan buat magang disitu selama 6 bulan (dengan harapan setelah s2 gue ditarik-tarik lagi sama mereka) *dzikir*… Sembari itu, gue tetap melakukan hobi gue, yaitu nulis dan nari, dan gambar. Seni ga akan pernah mati, dan kesenian akan membawa jiwa tetap muda sekalipun kulitmu mengeriput.


Itu deh mimpi gue dari jaman gue bau kencur sampe sekarang bau melati.

Kamis, 09 Januari 2014

The Inspiration

RIZKI SYARIEF


Tau nama itu? Pasti cuma segelintir aja yang tau sama nama itu.
Tapi gimana kalo yang gue tulis, nama ini:

RIZKI BIZNIZ


Sekarang pasti yang tau nambah. Tapi baru sebagian juga yang langsung tau.
Nah, kalo gue tulis nama ini:


RIZKI ALEXA


Pasti tau kan? Terlepas dia udah hengkang dari Alexa sejak 2011 lalu, pasti lebih banyak yang menyebut dia tetap sebagai Rizki Alexa.

ngambil dari Facebooknya Rizki

Rizki Syarief merupakan (bisa dibilang hampir) satu-satunya artis laki-laki Indonesia yang gue bener-bener idolakan. Kenapa? Padahal mungkin buat kebanyakan orang dia dikenal sebagai musisi, gitarisnya Alexa, terus keluar. Udah.

Buat gue, Rizki Alexa adalah satu-satunya laki Indonesia yang paaaaaaaaaaling bikin mimisan. Terus terang, gue lebih gampang tertarik sama laki-laki yang suka sama ilmu pasti melebihi orang yang suka ilmu sosial, dan terus terang lagi, gue suka sama orang yang bisa main musik ataupun kerja sebagai musisi. Dan Rizki Syarief itu keduanya! Sekali lagi, KEDUANYA. *lebay dikit* *bodo*

Dia cinta sama dunia fisika dan matematika, dan kalo lo emang suka sama dia, pasti pernah lah buka blognya dia dan bisa paham betapa ahmazingnya dia itu emang. Rizki Syarief dari SMA udah tinggal di Australia (lulus 2001) dan mulai kuliah jurusan Matematika dan Fisika sekaligus Filsafat untuk minornya. 

nyomot dari Facebooknya Rizki

Jujur sih, gue ga ngefans-ngefans amat sama Alexa. Gue cuma tau dianya aja sama vokalisnya dan gue mulai merhatiin Alexa itu juga ga sejak Alexa muncul. Kayaknya gue mulai suka sejak 2009. Emang dasarnya gue suka ga konsen kalo liat lak-laki kriwil rada gondrong kan, langsung aja gue jatuh mata sama sosok Rizki, terus googling. Makin jatuh cinta karena tau: otaknya seksi parah men...... Uda deh..... parah......

Gue mau ceritain soal bagian terlebay gue saat gue ngefans sama Rizki. Sebelum gue tergila-gila sama dia, gue ngefollow twitternya Sherina. TAPI gue fix unfollow sherina sejak tau dia ga lama putus dari Raditya Dika langsung pacaran sama si Rizki. Njir gua patah hati banget itu. KENAPA HARUS RIZKI? Iya kan, lebay kan. Tapi realitanya emang gue unfollow Sherina sejak itu, ya mau gimana lagi...

2010 adalah tahun-tahun gue ngabisin blognya Rizki. Yang mau tau blognya: rizkibizniz.blogspot.com dengan judul Just a ScrapBlog. Yang paling gue suka adalah tulisan dia yang judulnya "Mengartikan Pola yang Tak Ada Makna". Gimana ya, gue menggambarkan tulisan dia itu, meskipun ga secara harfiah menuliskan dengan kata-kata sains, tapi tetap ga lepas dari duni sains. Gue sendiri pernah baca bahwa pola-pola pada bunga itu kalo diperhatiin selalu teratur DAN kalo kita paham banget atau paling enggak pernah nyari tau tentang hitung-hitungan kalkulus, pola-pola tersebut bisa kita dapatkan. (ya gue ga jago kalkulus juga, gue cuma pernah baca.. baca.. baca doang baca, yaelah). 

Makin kesini, dia jadi inspirasi gue dalam hal mencari ilmu dan haus sama buku. Twitternya suka ngasih hal-hal informatif menurut gue, dia juga selalu menekankan 'cari tau' biar ga gampang 'kena tipu'. Dia juga pernah nulis supaya anak-anak muda Indonesia gak patah semangat buat bisa sekolah tinggi-tinggi bahkan di kampus ternama dunia. Dia-lebih-keren-daripada-sekedar-musisi.

Gue pernah punya pengalaman membahagiakan bersama Rizki (halah) ditahun 2011. Waktu itu gue masih kuliah di Surabaya, dan gue pergi ke salah satu mall di Surabaya sama temen kos gue. Gatau kenapa, yang biasanya gue kalo ke mall cukup kaosan, jeans, lalu cabut, hari itu enggak. Ya ga ngaruh juga sih gue mau pake baju apa. Tapi insting gue mengatakan hari itu gue ada baiknya pake baju yang rada rapi, agak perempuan dikit. Dan, voila, jadilah gue yang enggak kayak biasanya. Kagak, gue ga pake dress blink-blink norak gitu kok. Gue pake rok terusan selutut aja. Sampe di Mall Tunjungan Plaza, gue sama temen gue jalan kayak biasanya, sampe gue denger ada yang menarik. "ITU KAYAK LAGUNYA ALEXA YA?!" langsung deh gue dan temen gue menuju ke sumber suara. Bener dooooong, Rizki dicinta Rizki pun tibaaaaa. Ga rugi bandar gueee pake rok terusan kayak gituuuu. Lari lah gue turun menuju depan panggung. Temen gue pun protes karena gue lari kenceng "Temenmu ini pake wedges, larinya jangan kenceng-kenceng kek!" . Yeeee ga peduli guaaaa, gue cuma ga mau kehilangan kesempatan nonton persis didepan si Rizki MUMPUNG ga penuh. Ya lo tau sendiri, yang dikerumunin itu vokalisnya, sedangkan depannya si Rizki lumayan kosong. Alhasil, gue berdiri tepat didepannya pujaan hati gue, pangeran dalam hidup gue, Rizki Syarief *backsound: A Thousand Years - Christina Perri*

Itu orang-orang yang didepan si vokalis udah tereak-tereak "AAAAA AAAAA AAAAA", ikutan nyanyi, poto-poto, ulurin tangan. Gue? Beku. Persis backsound 'Frozen I have my breath'. Temen gue sampe nanya "Tadi heboh, sekarang uda didepannya ga ngomong apa2. Teriak kek, ngapain kek". Men, masih untung tangan gue masih sanggup megang hp buat motret, ikutan nyanyi aja gue ga sanggup! Mata gue doang yang bekerja normal! 

Sejujurnya ga ada bedanya gue pake baju apa juga. Cuma kan paling engga berkat gue berbaju yang agak feminim dikit gini, kalo si Rizki cerita tentang gue didepan temen-temennya "tadi ada cewe rada ga waras ngeliatin gue mulu ga ikutan nyanyi didepan gue" dan temennya nanya "Anaknya kayak gimana?" si Rizki ga akan bilang "Itu urakan banget bajunya bla bla bla". Seenggaknya penampilan gue waras..... Seenggaknya.

jepretan sendiri


(((((Pulang ke kosan gue setengah gila)))))

Lanjut.

Di tahun yang sama, doi hengkang dari Alexa demi mengejar cita-citanya sebagai fisikawan rupawan (iya, rupawannya gue yang nambahin). Dan didukung sama (calon mantan) pacarnya dia, si Sherina ituh. Hufff. Ya gue juga kalo jadi Sher pasti ho'oh aja, siapa yang ga bangga ya kan lakinya semacho itu badan dan otaknya. Mana ga sepele lagi, doi pernah kerja sama bareng Dewi Lestari. Duh Gusti.....

Pas dia keluar dari Alexa, dia nulis surat untuk para Alexis. Gue ngeliat tulisannya aja senengnya kayak apaan tau. Akhirnya, emang dasar guenya lebay banget, gua jadiin surat itu sebagai wallpaper laptop gue waktu itu. Sebagai bukti, dulu gue sempet screencapt itu.



Se-yang gue tau tentang dia sekarang, dia ambil doktor jurusan fisika. Iya, fisika, iya, doktor, di Brown University, Australia. Iya, gue mimisan. Enggak cuma itu, dia pun jadi asisten pengajar di kampus tempat dia kuliah itu. PARAH BANGET GAK SIH LAKI-LAKI INI. GILA, GA COCOK BANGET DIBILANG COWOK DIA ITU, DIA ITU LAKI!

Tolong dong please, dunia kedokteran cepetan bikin kloningan manusia. Mungkin kalo yang dikloning macem Rizki, bisa dihalalkan.

Ya udah gitu deh ceritanya. Berkat Rizki gue jadi punya artis laki Indonesia yang bisa gue banggakan dan gue jadikan inspirasi dan gue ga relain buat pacaran sama si Sherina.....
Berkat Rizki gue jadi makin semangat ngejar ilmu sebanyak mungkin supaya bisa pinter, supaya bisa bersanding sepadan dengan Rizki kelak (digampar orang se Indonesia - Australia).

harapan gue sekarang adalah: Gue berhasil sekolah lagi di luar Indo, gue mention si Rizki "Sayang, ini berkat kamuh", dan nemu kloningannya si Rizki Syarief ini.

Aamiin!

juga dari Facebooknya Rizki

Selasa, 29 Oktober 2013

Filosofi Sepatu

Pemirsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

Berhuubung si pemilik akun lagi bosen bikin puisi dan sejenisnya, maka kali ini pemilik akun pingin bahas sedikit yang ringan-ringan. Apakah gerangan topiknya? Agak umum sih, cuman ini diambil dan diselipin dari filosofi barang kesukaan si pemilik akun, yakni......


SEPATU.


Ya, hampir setiap orang pasti punya sepatu barang sepasang sepatu. Hanya beberapa orang yang tidak seberuntung kita yang tidak memiliki sepatu.

Sama juga, pasangan juga begitu. Hampir tiap orang didunia punya, tapi ada beberapa yang tidak punya.

Bagi saya, sebagai orang yang suka banget sama sepatu, banyak banget kemiripan antara nyari sepatu sama nyari pasangan. Dalam blog ini saya pengen menjelaskan kesamaan itu versi saya.

1. Model
Banyak orang (termasuk saya) memilih sepatu pertama kali adalah dari modelnya. Ga beda kan sama pasangan? Ga memungkiri kalo pertama kali yang diliat adalah fisik. Tinggi, pendek, gemuk, langsing, seksi dan sebagainya.

2. Ukuran
Setelah liat model, pasti kita liat ukurannya. Ga mungkin kita maksa beli sepatu yang ukurannya lebih gede ato lebih kecil. Sepatu kan bukan baju yang bisa digede kecil dengan gampang. Apalagi sepatu hak tinggi. Sama juga sama pasangan. Ukuran disini bukan ukuran sepatunya. Tapi ukuran: apa dia sepemikiran sama kita, ngukur kecerdasannya. Mungkin yang kayak gini jarang, tapi ada orang yang gak mau punya pasangan cuman modal fashionable dan make up, tapi ga cerdas. Jadi mengukur kecocokan kita sama pasangan.

3. Nyaman
Ini dia yang paling penting. Nyari sepatu, sebagus apapun modelnya, se-pas apapun ukurannya, kalo pas dipake ternyata ga nyaman, terus buat apa? Sama persis kan kayak nyari pasangan? Seganteng apapun dia, semenarik apapun dia, sebagus apapun tampilan luar dia, cerdas kayak gimanapun dia, tapi ternyata dia ga bisa bikin kita nyaman, kita ga bisa jalan dengan 'normal' setiap kita lagi sama dia. Secantik apapun sepatu itu, tapi setiap kita make, kita butuh sesuatu untuk ngakalin diri biar ga lecet, atau dipake bikin pincang, demi diliat sama orang "wah" pas make sepatu itu. Iya kalo oranglain peduli, kadang juga ga peduli sama sepatu kita. Sama juga kalo kita bisa dapetin pasangan yang wah banget buat kita. Dibalik rasa seneng karena bisa dapetin dia, tapi ga nyaman sama dia, butuh 'yang lain' biar perasaan kita ga lecet, demi diliat sama orang "ini loh pacar aku" "ini loh suami/istri aku" "cantik/ganteng kan", dipamerin ke orang, tapi jangankan untuk 'lari' sama dia, buat 'jalan' aja sakit, bikin meringis. 

Tambahan dari teman saya: "Cantik sih, tapi duit abis terus buat dia" sama kayak beli sepatu mahal, ternyata ga bikin nyaman."

Terus buat apa?

Jadi keinget sebuah obrolan serius sama temen.... hmm, partner diskusi lebih tepatnya.

Saya pernah nanya sama dia begini, "Bahwa kita ini sebenarnya hanya perlu teman bicara terbaik, kan?"

dan dia bilang, "Iya, karena pada hakekatnya manusia itu sendirian"

Jadi, saya yakin benar, pasangan terbaik saya nanti adalah dia yang memberikan rasa nyaman pada saya tiap kali bicara. begitupun dia pada saya.

Selamat cari sepatu! Kalau belum ada pasangan, selamat mencari juga, dan kalau sudah punya, maka nyamankanlah pasanganmu :D

Sabtu, 12 Oktober 2013

Happy (?)

It happened when I was taking a speaking IELTS test.
As we know about speaking IELTS test, there are 3 parts of the test.
In the last part I was given some related question with the previous one.

It was about money and happiness.

How can money makes people happy. Which is happier between who has a good relationship than the other who has lot of money, are people in Indonesia happy with their Job, etc.

But the most dramatically question which strikes me is:

"Are you a happy person? Can you describe me?"

My heart says "What kind of question is it, sir? Argh"

But yeah, it was my responsibilty to give him the fake answer, wasn't it?

I told him like this,

"Sir, I try to smile everyday, whether I have a reason or not. But I think it can't be forgotten that everything in our life is gifts from God, these are God blessing. I'm always trying to make a Joke to my friends, my parents, just to be happy.  
And sir, I contend that happiness do not come to us. We produce our happiness itself. And yess, I am a happy person :)"


Minggu, 21 Juli 2013

Daun dan Ranting

Suatu siang di alam semesta dengan hujan yang tidak biasa. Alam liar sedang mengumandangkan musik khas kemarahannya atas ulah manusia. Ya, ini Juli. Seharusnya matahari sedang terang-terangnya. Tapi karena sesuatu yang mereka (manusia) sebut perubahan iklim, inilah yang terjadi. Badai dan hujan dibulan ketujuh. Apa daya? Aku hanya mengikuti kemana angin membawaku. Dan disini aku sekarang, aku berkumpul bersama teman-temanku membentuk uap yang siap mengguyur sekali lagi. Aku memandangi sebuah pohon tua ditengah padang rumput. Pohon itu kokoh, tegak sendiri diantara kekosongan yang ada. Beberapa kali aku melihat ada yang terjatuh, ada yang jatuh bersama dan ada yang sendiri. Beberapa diantaranya ada yang beranjak dari rumah mereka. Sama seperti aku, mereka dibawa ketempat baru oleh angin. Pastilah mereka mengutuk keberadaanku. Lalu kepada siapa aku harus mengutuk? Apa ini sepenuhnya salahku? Akukan hanya mengerjakan apa yang mereka (manusia) mulai. 

"Ah, ada lagi yang terbang!" Kataku. Daun muda terbang ringkih. Tubuhnya lemah tanda tidak terbiasa dengan kekasaran badai. Dia terbang cukup jauh, melewati beberapa tanaman kecil, hingga akhirnya ia perlahan mendekati daratan. Dia tergeletak layu. Namun beruntung, ia terkulai diatas ranting tipis namun berakar kuat. Ranting muda. Warnanya masih hijau muda pekat, tebal, namun tentu masih sangat ringkih. Daun  muda yang tidak memiliki tenaga, tidak mampu berkata sepatah katapun kecuali mendengus kelelahan. Ranting terbangun dari tidurnya ditengah ributnya guyuran air hujan. 

"Hai." Sapa ranting. Aku belum lelah memperhatikan daun muda mungil yang bernasib buruk. Ia harus meninggalkan rumah terbaiknya, si pohon tua, karena semesta. Aku penasaran, apa dia menangis? Atau dia justru tidak tau apa yang terjadi? Daun muda tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan suara parau yang menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja. Ranting memasang wajah penasaran dan iba. Tidak ada perasaan jengkel sekalipun badannya dijadikan sandaran lelah oleh daun. Bahkan ia menggerakkan tubuhnya kesana-kemari untuk membenarkan posisi agar si daun mendapat posisi baik untuk bersandar. Sekali lagi, ranting berusaha membuka percakapan. "Eh, halo." Katanya. Kali ini daun membuka katup matanya perlahan, mencari-cari suara yang menyapa ditengah ributnya suara angin dan hujan. Sulit baginya menemukan sumber suara tersebut karena posisinya melihat kearahku. Lalu dengan kegigihan ranting, ia menggerakkan tangan-tangannya untuk memindahkan daun agar bisa menatapnya. Daun pun sedikit terperanjat melihat ranting. Ia merasa membebani ranting dan bergerak berusaha menjatuhkan diri ke tanah.

"Hei, hei, tidak apa-apa. Jangan panik begitu." Kata ranting. "Tapi aku.. Aku seharusnya tidak disini." Kata daun dengan nafas tersengal. Ranting tersenyum, tangan-tangan kecilnya mencoba memeluk daun yang semakin terkulai. "Aku belum punya teman selama ini. Aku senang kamu datang." Daun memejamkan mata dan raut wajah ranting berubah menjadi sedih. "Kenapa? Ada yang salah dari perkataanku?" Tanya ranting. Daun justru menangis, dengan berusaha keras ia berkata. "Aku.. Aku punya banyak teman di rumahku. Tapi dia (melirik kearahku) justru menurukan air begitu banyak, dan dia (melirik ke angin) melepaskan peganganku dari orangtuaku. Aku mau pulang" Dan daun terisak-isak.

Sesaat ranting bingung harus menjawab apa. Ia hanya berusaha memegangi daun agar tidak terbawa angin lagi. Daun masih menangis dan nafasnya tersengal. Beberapa saat kemudian, ranting mencoba bicara lagi pada daun, "Apakah sakit?" Daun membuka mata dan melihat ranting. "Tentu saja. Ini seperti kehilangan anggota tubuhmu. Kamu kehilangan keluargamu dan teman-temanmu, kamu tidak akan tau bagaimana rasanya!"

Kini ranting sedih. Ia menunduk, dan matanya berlinang. "Maaf daun." Dan daun kaget mendengarnya. Ia melihat mata ranting yang berlinang airmata. "Kenapa minta maaf?". Mata ranting melihat ke sekelilingnya. Ranting tua, akar, juga tanah dibawahnya. Mengajak daun tanpa bicara untuk memandang ke sekeliling 'rumah' sampai ranting akhirnya bertanya "Kamu mengerti maksudku?". Daun menggeleng. Keduanya diam, namun ranting meneteskan air mata pertamanya, bersaing dengan tetesan-tetesan hujan.

"Aku satu-satunya ranting kecil disini. Rumahku tidak sebesar rumahmu, tidak sekuat akar-akarmu, tidak seramai lingkunganmu. Aku belum pernah punya teman daun yang bertahan lama. Posisi kami disini menyebabkan daun lebih cepat gugur, beberapa kali aku harus menyaksikan mereka jatuh. Terlalu cepat, hingga aku belum sempat bisa berbicara dengan mereka. Aku tidak pernah punya teman disini dan aku merasa senang kamu datang. Aku kesepian.. Aku benar-benar kesepian..........."

Keduanya kini saling merunduk. Daun menyesal telah berkata tentang kehilangan, karena ranting justru beberapa kali kehilangan. Hujan dan angin masih bersekongkol kejam terhadap mereka. Ranting, meski menangis tetap memeluk daun seerat mungkin agar tidak bernasib sama dengan teman-teman daunnya yang lama meninggalkan dia.

"Aku tau, kamu tidak mungkin selamanya disini. Aku tidak bisa menanam kamu di tangan-tangan kecilku. Tapi setidaknya aku bisa berkenalan dan tau bagaimana rasanya punya teman." Lanjut ranting.

"Dan aku kesakitan. Kamu tau kan kehilangan anggota tubuh, dimana kamu tidak mampu makan atau minum, itu sama saja kamu akan menghadapi kematian. Warna tubuhku perlahan akan menguning. Hijauku pada akhirnya tidak lagi tersisa. Kuningpun akan berangsur cokelat. Lalu.." 

"JANGAN DITERUSKAN!" Potong ranting. "Aku tau, aku tau itu pasti terjadi. Tapi apa salahnya dalam beberapa hari ke depan aku memliki teman bicara? Aku memiliki satu nama yang bisa aku kenang? Aku ceritakan pada teman kedua, ketiga, tentang teman pertamaku?" Lanjutnya.

Daun menatap kedua bola mata ranting. Tersirat rasa kesepian yang mendalam dari mata ranting. Begitu juga ranting, ia melihat jauh kedalam mata daun, dan ia mendapati kerinduan dan ketakutan dimata daun. Keduanya, dibalut rasa negatif. Kesepian dan ketakutan bercampur ditengah hujan deras. Semesta sedang bersekongkol. Realita siang itu seperti neraka. Tapi kedua rasa itu dipertemukan dalam suatu ikatan baru, pertemuan.

Daun dan ranting bertemu dengan membawa duka masing-masing. Mereka kini saling merangkul. Berkenalan. Membawa rasa baru dalam kehidupan mereka. Daun menemukan sosok sahabat sejati yang selama ini tidak ia rasakan. Tidak pernah ia miliki sahabat sebaik ranting. Ia belajar sesuatu yang baru. Bahwa selama ini tempat dimana ia tinggal, memang memberikan rasa aman, banyak teman, namun tidak nyaman. Tapi itu semua karena sudah menjadi 'kebiasaan'. Ranting tempat ia tinggal tidak pernah merangkulnya dengan erat, daun-daun lain sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tidak ada yang menjadi sangat dekat. Tapi disini, ditengah rasa sakit yang menimpanya, selalu ada ranting yang menjaganya, menemaninya bicara hingga larut malam. Ia benar-benar merasa dimiliki. Lalu ranting, yang selama ini kesepian, selalu tidak memiliki kesempatan untuk menjaga apa yang ia punya. Ia dipertemukan dengan daun yang rentan, menceritakan kisah kehidupannya, dan tau apa yang harus dilindungi. 

Tapi tentu, keduanya dibebani oleh ketakutan yang sama. Mereka dalam beberapa hari akan berpisah. Daun tidak mungkin hidup lebih lama. Tubuhnya kini menjadi kuning. Ranting pun lebih sering menghibur daun demi mengalihkan ketakutan daun mungil yang kini semakin layu. Hari-hari setelah badai itu merupakan hari yang cukup cerah, sehingga tubuh daun tidak lebih mudah patah karena dijatuhi hujan. 

Hingga suatu siang, aku mendapati diriku melebar. Berkumpul membetuk gumpalan gelap. Angin menyatukan aku dan teman-temanku dalam jumlah yang (sekali lagi) besar diatas padang rumput ini. Aku tau, hari ini akan tiba. Aku akan, mau tidak mau, memisahkan dua sahabat ini. Aku akan mengantarkan daun ke permukaan tanah, tapi aku juga akan mempercepat tumbuhnya daun dibadan ranting kecil itu.

Keduanya mengadahkan kepalanya kearahku, lalu kembali saling menatap. Daun bicara, kali ini benar-benar dengan sisa kekuatan yang ada. "Disini, aku belajar arti baru. Bahwa pertemanan, tidak hanya karena 'memiliki fisik teman' tapi juga menjaga, mendengar, dan memperlambat waktu tiap ada kebersamaan. Dan beberapa hari disini dengan fisik seperti ini, memiliki sahabat seperti kamu, jauh lebih berarti daripada berada di pohon tua, dengan ribuan daun lainnya, namun tidak memiliki ikatan kuat." Ucap daun.

                                    "Satu sahabat jauh lebih berarti daripada ribuan teman"

Ranting menjawab, "Sahabat tidak akan pergi meski fisiknya tidak ada. Aku yakin kamu akan tetap berada disini. Aku akan terus bicara denganmu meski..." Daun kejatuhan titik hujan pertama. Sebagian dari tubuhnya sobek. Ranting menangis dan berusaha menyelesaikan kata-katanya "..meski kamu sudah dalam wujud yang lain."

"dan sahabat tidak akan pergi, perginya seorang sahabat pun akan tetap memberikan sesuatu yang baik. Aku, akan menjadi humus, dan aku akan menggemburkan tanah, sehingga ada daun baru tumbuh dibadanmu, yang mungkin salah satunya nanti, aku yang terlahir kembali :)" Lanjut daun.

Keduanya saling berjanji. Daun meminta tangan ranting dibuka agar daun bisa lepas. Daun telah siap menjatuhkan diri ditanah. Ranting menguatkan diri dan memberanikan secara perlahan melepas genggaman tangannya dari daun. Kini aku siap menjatuhkan air hujan yang lebih besar, tidak ada rasa bersalah, karena akupun, meski tidak mereka ketahui, berjanji untuk mempercepat pertemuan mereka kembali, dalam tubuh yang sama.

@magicalofrara

Sabtu, 06 Juli 2013

Déjà vu

Déjà vu is a word from French, literally means already seen.  is the phenomenon of having the strong sensation that an event or experience currently being experienced has been experienced in the past, whether it has actually happened or not. 

-Wikipedia-

Well, ada diantara kalian mengalami kejadian serupa? Lewat mimpi ataupun seperti mengalami fase yang sepertinya 'pernah terjadi'. Saya tidak mengerti terlalu dalam bagaimana fenomena ini ada. Melalui tulisan saya, saya menggunakan istilah ini sebagai kiasan atas apa yang saya alami. Mungkin cerita saya akan banyak saya beri kiasan, tidak terlalu pure dan jelas.

Lima tahun lalu. 

Ketika itu datang pada saya, saya masih remaja. Dengan masih kaya hati dan memandang hidup jauh lebih sederhana daripada sekarang, sesuatu datang. Sama sekali tidak mengganggu, hanya konyol saja, tapi tetap menyenangkan. Ada pertemuan kecil disana.

Dalam waktu singkat semua menjadi mengherankan. Jelas, namun membingungkan. Saat itu saya tidak bisa berkata apa-apa selain mendengarkan. Hanya menjadi pendengar sebuah cerita yang menjadikan aku seorang pemain didalamnya. Dengan kesederhanaan pola pikir saya, saya menertawakan cerita itu. Menganggap itu angin, dan tidak terlalu ambil pusing. 

Lalu layaknya angin, kisah itu hilang

Aku terus beranjak. Dengan sisa-sisa usia remaja, aku memasuki fase dimana hidup tidak bisa sesederhana itu lagi. Kekayaan hati pun berangsur menipis. Kejadian baru menghampiri aku. Kali ini beda. Rumit, kujalani. Namun tetap dengan berusaha memandangnya sebagai hal normal, wajar, dan sederhana. Kali ini aku tidak hanya mendengar, melainkan ikut bicara, ikut berandil. Lama. Kejadian tersebut berangsur lama dan mengalami banyak anak kejadian. Semakin lama semakin jelas,  jelas, dan kemudian buram. Tidak lama buram tersbut disapu oleh pencahayaan cukup terang sehingga menjadi jelas seperti semula. Begitu terus seperti air.

Lalu layaknya air, ada waktu dimana air tersebut harus dijernihkan

Didepan mata

Tidak lima tahun lalu. Tidak dahulu. Kini didepan mata. Aku mengalami kejadian yang 80% sama seperti 5 tahun lalu. Kondisi dimana aku menjadi pendengar, dan menjadi andil didalamnya, semua. Aku kembali menemukan 'paket cerita' tersebut tanpa aku menduga dan mengharap. 

"Ini skenario Tuhan" kataku.

Sungguh aku tidak merencanakannya, aku tidak mengharapkan, juga tidak menghindarinya. Karena apa yang bisa kita hindari jika itu memang kehendak Allah Yang Maha Kuasa? 
Apakah ini fase? Jika ya, apakah harus dengan hal-hal yang sama persis dulu dan sekarang? Jika tidak, seharusnya setelah ini akan ada siklus lain. Bukan Déjà vu seperti sekarang ini. 

Namun, apalah artinya pertanyaanku?

Toh masa depan, satu jam lagi sekalipun, bukan hak ku untuk mengatur. Bukankah memang satu-satunya hal yang pasti di dunia ini hanyalah sebuah ketidak pastian? Dan memang sudah sepantasnya kita duduk manis menunggu pertunjukkan satu persatu penjelasan dari ketidak pastian itu, kan? 

Allah Maha Tau, kita tidak mengetahui apa-apa.

Kamis, 30 Mei 2013

Selamat jalan kakak berkursi roda

Ini tentang temen saya waktu kecil. Bisa dibilang kami teman dekat dan kami bertetangga.
Dia perempuan, dan dalam ingatan saya dia cukup tinggi (setidaknya yang bisa saya perkirakan), berambut agak keriting (kalau saya tidak lupa).

Dia sekitar 4 hingga 5 tahun lebih tua dibanding saya. 
Sejak lahir, dia lumpuh karena Toksoplasma. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri saja dia tidak mampu.
Karena itu, sejak saya kenal dia, saya hanya ingat dia selalu berada di kursi rodanya.

Orangtua kami dekat, saya dan mama sering mengunjunginya, dan pada saat itu saya belum sekolah.
Setiap kerumahnya, tentu saja saya selalu main dengannya. 
Main apa? Apa yang bisa ia lakukan dari kursi rodanya?
Kami biasa main boneka pada saat itu, dan seingetku, kami juga pernah main lempar bola yang dimasukkan ke keranjang besi yang berukuran tinggi. Kami juga pernah keliling sekitaran perumahan kami. Kadang aku yang mendorong, tapi lebih sering dia mengatur sendiri kursi rodanya.
Iya, meskipun saya bisa saja melempar bola sambil berdiri dan melompat, namun saya memilih melemparnya sambil duduk. Hanya untuk menyamakan diri dengan teman saya ini.

Pada saat itu tentu saja tidak ada pikiran iba atau apa, yang ada dipikiran saya, apa yang ia lakukan, ingin saya lakukan juga. Malah kadang saya suka meminjam kursi rodanya ketika ia sedang duduk di kursi biasa.
Saya justru berpikir asik juga kalau saya bisa pakai kursi roda.

Tidak banyak hal saya ingat, karena setelah saya masuk TK, saya harus pindah rumah. 
Meski begitu, setiap kali saya ikut mama kerumahnya, kami masih sering main bersama.

Semenjak saya SD, mungkin sekitar kelas 4, saya sudah tidak pernah bertemu dengan dia lagi. 
Tapi namanya? Tentu akan selalu saya ingat. Bahkan wajahnya pun saya masih ingat hingga hari ini.

Dan kemudian pada tanggal 29 Mei 2013 mama saya mengatakan sesuatu pada saya. Wajahnya berduka.

"Rara, inget temen rara kak xxxxxx yang pake kursi roda?"

Jelas saya ingat. Mana mungkin teman saya saat kecil saya lupakan?
Kemudian mama melanjutkan

"3 Minggu yang lalu dia meninggal Ra. Gagal ginjal."

Saya tidak ingin menjelaskan mengapa bisa meninggal justru karena gagal ginjal.
Saya hanya ingin mengenang tentang dia.

Kakak itu, sejak lahir sudah divonis dokter kalau ia hanya mampu bertahan hidup selama 5 tahun.
Sekali lagi yang saya tidak paham, benarkah dokter BERHAK berkata demikian???

Namun kenyataan berkata lain, ia bisa hidup hingga ia tutup usia dengan umur sekitar 27-28 tahun. Hidup selalu diatas kursi rodanya. Dengan ibu yang begitu sayang terhadapnya.

Satu kata terakhir yang saya ingat dari ibunya 

"Tuhan udah ngasih saya bonus waktu banyak untuk mengurus dia.."

:")

Betapa cepat waktu berjalan. Betapa dengan tak disangka dan tak diduga kematian memisahkan antar manusia, siap atau tidak.
Betapa aneh rasanya membayangkan "kemarin aku main dengannya" dan hari ini ia sudah tidak ada di dunia.

Betapa kita sering menyiakan kebersamaan kita dengan orang yang kita sayang, hingga nanti perpisahan seperti ini yang menyadarkan kita, bahwa waktu tidak akan kembali..
Jika kematian yang merenggutnya.

Betapa kita suka lupa, bahwa tiap detik kita mungkin bisa menyusul mereka. Kita lupa, bahwa kita tidak hidup selamanya..

Selamat jalan kakak berkursi roda. Selamat jalan teman kecilku. Selamat jalan dan semoga engkau selamat hingga tujuan. Semoga Allah menerima semua amal dan ibadahmu. 
Terima kasih karena memberiku sedikit kenangan tentang kamu, memberi saya cerita tentang hidup diatas kursi roda. Terima kasih, kak :")

Selasa, 16 April 2013

Simple Happy :)

Ada sedih, ada juga senang. Ini dia lagu-lagu yang liriknya bikin senyum :)

Here we are!

-Vidi Aldiano, Nuansa Bening-

-SO7, Percayakan Padaku-

-SO7, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki-

-Jason Mraz, Woman I Love-

-Colbie Caillat, Bubbly-

-Nidji, Laskar Pelangi-

-Colbie Caillat, Lucky-

-Nugie, Pelukis Malam-

Dan untuk lagu yang terakhir, ini satu lagu liriknya aku suka banget. Dari awal sampe akhir, uda bertaun-taun, selalu didengerin :)
-Plain White T's, Hey There Delilah-

Sadgenic

Beberapa kepingan lirik dari beberapa penyanyi yang agak-memberi-kesan waktu sedih.

Here we go!


-Kimbra, Somebody that I used to know-

-Gotye, Somebody That I Used to Know-

-Christina Perri, Distance-
-X Japan, Endless Rain-

-Jason Mraz, Beautiful Mess-
-Christina Perri, Jar of Heart-
-John Mayer, Dreaming With a Broken Heart-
-Michael Buble, Always on My Mind-
-Taylor Swift, Back to December-

Minggu, 27 Januari 2013

PENANG part 3 (finish)


Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..

Akhirnya masa sulit itu berlalu. Papa selesai operasi dengan baik, cepat pulih, dan paling cepat pulih dibanding semua pasien pada umumnya. Ini berkat kegigihan cinta mama ke papa yang sudah bertahun-tahun menjaga pola makan papa. Subhanallah. Mungkin ingat potongan lirik Payphone oleh Maroon 5?

“If happy ever after did exist, I will still be holding you like this”

Itulah mama terhadap papa. Karena aku selalu ingat, di suatu pagi mama pernah berkata pada saya sambil menangis, “kalau papa harus pergi, mama juga harus pergi. Karena mama ga bisa hidup sendirian tanpa papa.”

:’)

Papa diijinkan buat jalan-jalan karena dianggap fit. Biarpun papa semakin kurus dan kurus daripada dulu, saya tetap bersyukur, papa bisa melalui semua ini dan pulih. Waktu itu kami ke Bukit Bendera, atau Penang Hills. Sekarang saya tidak akan menceritakan bagaimana situasi disana. Saya hanya ingin menceritakan pelajaran apa yang bisa saya dapatkan dan TIDAK saya dapatkan disini.

Kami menyewa sebuah mobil kecil (semacam mobil buat dilapangan golf) beserta sopirnya. Sopir kami berasal dari India. Sepanjang perjalanan saya konsentrasi penuh atas apa yang dia bicarakan, maklum, logat melayu dan kecepatan bicara khas orang India. Dia menjelaskan beberapa rumah yang menjadi peninggalan sejarah (British) disana. Beberapa diantaranya sudah tidak dipergunakan, beberapa diantaranya dibeli oleh keluarga yang super duper kaya. Dan berasal dari China. Tdia bertanya kami datang darimana, dan kami menjawab dari Jakarta, Indonesia. Dia langsung berkata “Ah! Indonesia. Banyak sekali orang Indonesia yang datang kemari untuk berobat.” (lagi, jangan tanya saya mengapa bisa begitu).

Saya punya firasat, bahwa dia juga tidak menyukai apa yang terjadi dengan negara Indonesia dan Malaysia = tidak akur. Lalu dia berkata kepada kami.

“Kamu orang Indonesia. Saya orang India. Dan kita berada di Malaysia. Bagi saya itu tidak penting. Kulit kamu coklat, saya merah, hitam, mereka putih, kuning. Silakan kamu potong nadi saya. Apa warna darah saya? Pasti merah bukan?” Ku jawab iya. Lalu ia melanjutkan “Dan apa warna darah kamu? Apa cokelat? Hijau? Tentu merah kan? Lalu mengapa diluar sana begitu banyak orang yang mempermasalahkan perbedaan? Bahwa kita memiliki satu warna, merah. Kita memiliki satu cinta.”

Saat itu, saya mengerti apa yang ia maksud. Manusia sekarang sulit berpikir seperti anak-anak yang belum ternodai pikirannya. Cinta. Hal paling mendasar adalah cinta. Tidak peduli apapun, jika kita memiliki rasa cinta, semua akan baik-baik saja.

Saat itu saya bertanya, “mengapa disini bisa begitu damai? Kenapa tidak banyak orang-orang seperti orang ini? Kenapa harus ada perang Israel dan Palestine? Kenapa di Indonesia justru pembunuhan begitu brutal hanya karena fitnah yang sepele. Kenapa?”

Tidak bisakah kita berpikir murni tentang cinta? Seperti seorang anak? Dan teteap memupuknya sekalipun umur kita menua? Apa yang kita kejar selama ini? Berkelahi dengan negara tetangga, bahkan dengan saudara sendiri. Selalu memikirkan perbedaan. Tidak ingat dengan apa yang kita miliki bersama. Kita menuntut, bukan berbagi. Kita meminta, bukan memberi.

Itulah mengapa saya mencintai traveling. Bukan untuk bersenang-senang saja, namun lebih untuk memahami jalan pikiran banyak orang, mendapatkan pelajarn baru tentang hikmah hidup yang telah lama hilang.

Terima kasih kepada Allah SWT yang memberikan kami (saya, mama dan papa) kesempatan untuk mengenal Penang. Mengetahui slogan yang tidak-pernah-saya-temui di Indonesia “God heals, We help”, bahwa semua kecerdasan, kepintaran, pertolongan, semua berasal dari Tuhan. Kita hanyalah perantara. Dan tanpa kebaikan dan cinta kita tidak akan tumbuh menjadi perantara yang baik.
Penang, pulau sejuta pelajaran. Pulau yang mengajarkan kesederhanaan dan hakikat bahwa semua dari Tuhan, dan kita tak pantas bersombong. .

Seumur hidup aku tidak akan lupa terhadap 5 oktober 2012. Hari dimana aku berjuang tanpa yakin bisa melaluinya dan ternyata aku mampu.

Sekian

PENANG part 2


Operasi papa berjalan cukup cepat, sekitar jam 11 waktu Penang, cleaning service Bangladesh itu mendekati saya dan mama lalu bertanya “Keluarga siapa? Hj.Chayun keh?” Kami jawab iya. Lalu dia bilang “Kondisi bapak bagus. Sudah selesai. Smua berjalan lancar.” Kami lega bukan main. Tapi anehnya, suster belum ada yang keluar dan memanggil kami. Padahal katanya, kalau operasi telah selesai pasti kami diberitau. Ini justru CS yang memberitaukannya. Saya dan mama mulai curiga kalau si CS ini agak sok tau. Sekitar setengah jam kemudian barulah suster keluar dan memanggil saya. Iya, saya yang dipanggil. Saya ditanya umur, status dalam keluarga apa. Kemudian saya dijelaskan bahwa papa mengalami pendarahan dan mungkin akan butuh darah. Saya lemes. Takut. Saya selama ini tidak pernah donor darah, saya jujur saja takut dengan jarum suntik. Tapi pasti setakut2nya saya, apapun akan saya lakukan untuk papa.

Saya dibawa ke bagian gedung lain dari RS itu. Saya harus mengisi formulir, masa lalu penyakit, dan kondisi saya saat itu. Sialnya, sedihnya, kesalnya, saat itu asma saya sedang kambuh. Si perawat bingung. Dan bilang “kapan kamu terakhir ada minum obat?” saya jawab saya tidak minum obat, saya hanya menggunakan obat semprot. Kemudian si perawat itu berdiksusi dengan perawat lain. Dan si perawat datang pada saya “Ada ke keluarga lain yang ikut dengan kamu?” saya bilang hanya ada saya dan mama. Mama tidak boleh mendonor karena usianya sudah tua. Dan dia bilang sambil senyum menenangkan saya, “Maaf ya, kami tak bisa ambil darah kamu. Nanti kamu justru bisa pingsan karena kondisi kamu sedang asma.” Saya nangis. Lagi. saat itu saya gagal mengontrol pikiran saya menjadi kembali positif. Si perawat berkata tidak perlu khawatir, dia akan mencarikan darah untuk ayah saya.

Saya kembali ke ruang tunggu keluarga pasien. Saya merasa salah karena sakit. Kenapa harus dalam kondisi begini. Satu jam kemudian kami dapat kabar kondisi papa sudah stabil. Kami disuruh pulang untuk istirahat dan sorenya kembali lagi saat papa sadarkan diri. Saya dan mama pulang dan mengistirahatkan diri. Jam 4 waktu penang saya bangun dan bersiap-siap. Lalu kejadian buruk (lagi-lagi) harus saya hadapi. Mama saya jatuh sakit. Vertigo beliau kambuh. Berkali-kali muntah dan tidak bisa berdiri. Mama menyuruh saya untuk ke RS liat papa. Tapi saya bingung, kalau saya pergi mama bagaimana? Kalau ada apa-apa gimana? Saya jalan dengan pikiran ngawang. Benar-benar bingung rasanya. Di negeri orang, sendirian, kedua orangtua sakit. (Saya nangis waktu menulis bagian ini). Sampai di rumah sakit saya masuk ke ruang papa. Alhamdulillah beliau sudah sadar. Pendarahan juga sudah mereda. Ekspresi lemah beliau mengingatkan bahwa segala sesuatunya tidak akan ada yang bisa selalu kuat.

Saya bisikkan ke telinga papa “mama ga bisa dateng. Tapi insya Allah bsk dateng kok” dan papa jawab sambil berbisik “gapapa. Biar mama istirahat.” Saya tidak berlama-lama di RS karena pikiran juga terpecah ke mama. Saya beli buah asam dan roti buat mama, dengan pikiran mama saat ini lagi stress, makan kurang , akhirnya vertigo kumat dan ambruk. Tapi mama bahkan buat makan pun ga bisa. Rasanya lebih banyak yang dimuntahkan daripada asupan makanan yang masuk. Saya sms suami dari teman kakak saya yang berprofesi sebagai dokter dan kebetulan orang malaysia, beliau bilang “mama kamu harus dibawa ke rumah sakit. Panggil saja ambulance”. Saya bingung setengah mati, bagaimana caranya mama saya ke rumah sakit? Smua makanan yang saya beli tidak ada yang dimakan. Smua. Bahkan buat bangun pun tidak bisa. Saya keluar lagi beli obat maag. Dijalan saya kembali ngawang, sedih, sempat berpikir aneh-aneh. “Kalo saat ini saya yang mati gimana? Orangtua saya gimana?” Lemes sekali rasanya. Sesaat begitu dapet obat saya pulang. Tapi percuma. Mama tidak mau.

Saya menyeduh bubur untuk mama makan, saya suapin ke mama. Tapi mama Cuma bilang “ntar” sambil lemes. Saya nangis lagi. Kali ini nangis bercampur marah. “Mama kalo ga mau makan, ga mau minum obat, terus mama kapan sembuhnya? Mau entar kapan? Mau muntahin apa lagi?” Akhirnya mama mau makan meskipun Cuma 3 sendok. Waktu sudah malam. Saya pun seperti sudah tidak ada tenaga. Saya berpikir, ya sudahlah, whatever will be will be. Toh saya sudah berusaha. Saya Cuma berdoa, supaya besok pagi saya bangun semua sudah menjadi baik.

Esok paginya, Subhanallah, Alhamdulillah, semua sudah kembali normal. Mama sudah membaik, sudah kuat berdiri dan ke RS. Sampai RS pun papa sudah jauh lebih kuat. Bahkan, kata suster rata-rata pasien harus diinapkan di perawatan khusus 2 hari, tapi papa hanya 1 hari, hari itu juga, 1 hari setelah operasi papa bisa dibawa ke ruang perawatan biasa. Allah Maha Besar memang. Rasanya bahagiaaaaa sekali. Kami menunggu sampai jam 11 di ruang tunggu tapi tidak ada kabar papa sudah dipindahkan atau belum. Lalu si CS Bangladesh ini lagi-lagi menghampiri saya dan bilang “Bapak sudah dipindah ke lantai 4.”

Oh ya sedikit cerita, CS Bangladesh ini baikkkkkk sekali. Dia yang menenangkan kami, dia yang selalu mengabari kami walaupun itu sebenarnya bukan tugas dia tapi tugas suster, tapi susternya lalai. Dia memberi saya voucher makan (tapi sampai sekarang tidak saya gunakan, namun saya simpan), dan dia memberitau saya dimana tempat makan yang bagus untuk muslim seperti kami. Akhirnya, mama saya memanggil dia dan bertanya namanya. Dia bernama Syeikh Jewel. Saat tau namanya, yang saya pikirkan adalah bahwa saya HARUS MENCERITAKAN DIA DI DALAM BLOG SAYA. Mama bilang ke dia “kamu orang baik Syeikh, terima kasih banyak.” Lalu orang ini berkata:

“Buat saya semua orang sama, tidak peduli dia siapa, agama apa, yang terpenting dia baik, itu yang paling penting. Terima kasih kalau anda bilang saya termasuk baik.”

Dan dia memberikan nomer teleponnya kepada kami. Saya akan selalu ingat betapa baiknya orang ini terhadap kami.

*bersambung ke part 3*